Tuesday, June 7, 2016

'Menggugat' Yusuf Mansyur

Perlukah kita menggugat Yusuf Mansyur?

Kemarin, saya membaca tulisan di laman Dakwah Media yang menuliskan tentang kritik seorang ulama mengenai dakwah sedekah ala Yusuf Mansyur. Aslinya tulisan itu, bukanlah langsung ditulis ulama yang bersangkutan, melainkan buah tangan seorang wartawan yang juga aktif di dunia dakwah.

Intinya, tulisan tersebut menggugat Yusuf Mansyur dengan dakwahnya yang moncer dengan keajaiban sedekah. Sang penulis, bernama Darso Arif tersebut telah menerbitkan sebuah buku bertajuk: Yusuf Mansyur: Menebar Cerita Fiktif Menjaring Harta Umat.

Yusuf Mansyur Sedekah
Ustadz Yusuf Mansyur
Dan buku tersebut telah pula menarik perhatian beberapa kyai dan ulama yang mengkritisi cara berdakwah Yusuf Mansyur yang dianggap telah mengiming-imingi umat bersedekah pol-polan dengan menjungkir balikkan maksud dan tujuan dari sebuah hadist.

Sambil menulis ini, saya juga menelusuri beberapa halaman berkaitan dengan Yusuf Mansyur, tujuannya untuk lebih berhati-hati. Jangan sampai muncul fitnah dari tulisan ini. Mengetik kata Yusuf Mansyur di laman Google, tidak ada muncul kata negatif paling tidak di lima frasa awal yang disarankan.
Yusuf Mansyur Sedekah
Atau jika menggunakan tool yang lebih baik lagi, akan didapatkan ratusan kata kunci terkait Yusuf Mansyur, namun tidak sampai 1% yang memuat kata negatif. Ini menunjukkan masyarakat netizen tidak banyak yang berprasangka buruk terhadap Yusuf Mansyur.
Yusuf Mansyur Sedekah
Penelusuran kata kunci menggunakan keywordshitter.com
Salah satu halaman yang cukup banyak memuat hal negatif mengenai Yusuf Mansyur adalah laman thayyibah.com. Di halaman tersebut juga ada cara bagi yang berminat memiliki buku kontroversi tersebut. Bagi yang penasaran, bisa mengunjungi ke halaman tersebut.

Bagaimana dengan saya sendiri? Apakah ada dalam posisi mendukung atau menggugat Yusuf Mansyur?      

Terus terang saya tidak ingin terlibat polemik. Bagaimanapun seorang ustadz, tentunya sudah melalui fase pembelajaran yang matang, baik di pesantren maupun di lapangan secara mumpuni. Tidak mungkin santri kemarin sore, sudah bisa mempunyai jamaah yang sedemikian banyak dari penjuru negri. Termasuklah Yusuf Mansyur ini.

Saya dan Yusuf Mansyur

Pertama saya mengenal dan bertemu langsung dengan beliau, adalah di tahun 2005. Saat itu, kantor saya yang bergerak di bidang penghimpunan zakat dan kemanusiaan, menggelar kegiatan tabligh akbar bersama dengan Telkomsel dan organisasi kemahasiswaan.

Dan memang saat itu, apa yang dibawakan oleh Yusuf Mansyur ini berbeda dari kebanyakan ceramah ustadz dan kyai selama ini. Ceramah trus langsung action!

Dan uniknya lagi, bidang yang ia ambil adalah sedekah. Sesuatu yang masih kosong dan tidak diisi oleh kalangan pendakwah selama ini. Yang lebih kepada fikih dan ibadah formal.

Hari itu, ratusan lembar uang tunai dan aneka perhiasan serta ponsel terkumpul di lapak panitia. Yang lebih mengejutkan lagi, tidak ada sepeserpun yang ia minta untuk bawa pulang ke Jakarta. Semua diserahkan kepada panitia acara. Sementara, dianya cuma minta dibayar ongkos pesawat sama penginapan saja.

Saya tentu saja takjub.

Maka kemudian, saya pun tenggelam dengan beberapa buku karya beliau, artikel-artikel di situs miliknya wisatahati.com dan di sekitar tahun 2007-an saya berkesempatan mengunjungi pesantrennya. Kesan pertama saya: sangat sederhana sekali. Waktu itu datang bersama rombongan sudah pukul delapan malam. Kami disuguhi penganan ketan. Seperti halnya khas orang betawi, ia sangat ramah menyambut kami.

Yusuf Mansyur dan Salim A Fillah

Yusuf Mansyur Sedekah
Salim A Fillah dan Yusuf Mansyur
Yang pasti. hingga kini ada dua dai yang senantiasa saya cari videonya di Youtube untuk mendengarkan tausyahnya. Yakni Ustdaz Yusuf Mansyur dan Ustadz Salim A Fillah. Kedua-duanya saya suka, meskipun bidang dakwah yang disampaikan berbeda jauh.

Saya memilih mendengarkan Yusuf Mansyur jika lagi kurang bersemangat. Ceramah Yusuf Mansyur cenderung memberikan motivasi untuk beramal terbaik dengan harta, sedangkan Salim A Fillah saya suka tausyahnya karena lugas, kaya akan pengayaan sejarah - tak hanya melulu soal sirah nabawiyah di jaman Rasul dan sahabat, namun juga sejarah wali, kerajaan Islam dan masuknya islam di tanah air.

Nah dari Salim A Fillah, ada dalam beberapa kali kesempatan tausyahnya, menyindir Ustadz Yusuf Mansyur ini. Yang saya ingat adalah "Janji Allah kok Manusia yang Memastikan".

Saya pikir, benar juga. Semua hadist yang disampaikan Yusuf Mansyur tentang keutamaan sedekah tentu benar belaka. Tapi, mungkin karena disampaikan secara meyakinkan dan pasti dapat, itulah yang menjadi permasalahannya. Mahluk kok bisa memastikan takdir Allah.

Di titik inilah, saya pikir Yusuf Mansyur bisa keliru. Jamaahnya menjadi percaya begitu saja, no reverse. Seolah-olah apa yang disampaikan itu adalah sebuah kepastian. Memang dalam beberapa ceramah Yusuf Mansyur ada bagian yang membuat saya terhenyak. Yang saya kira memang terlalu berani.

Namun, adanya temuan di atas, tidaklah menyurutkan saya untuk terus mendengarkan tausyah dari beliau. Masih banyak ilmu lain yang bisa diambil darinya. Masih banyak hikmah yang bisa ditimba dari pengalaman beliau pribadi.

Kalaupun para ulama ingin menegur yang bersangkutan, mungkin akan lebih elok dilakukan di majelis tertutup, bukan di media sosial ataupun media massa. Karena, hal ini tentu akan menurunkan marwah sang ustadz. Selain itu, melemparkan kritik ke lini massa, ibarat melemparkan bola panas yang akan bergerak secara liar tak terkendali.

Lagi pula, banyak masyarakat yang tercerahkan dengan materi ceramahnya. Bahwa, sedekah itu punya perspektif lebih luas. Belajar ikhlas dengan memberikan harta yang banyak. Tentu akan lebih baik daripada memberi sedikit tapi jarang-jarang. Itu saja.
Yusuf Mansyur Menebar Cerita Fiktif Menjaring Harta Umat

Jangan sampai, Yusuf Mansyur juga akan dibenamkan layaknya Aa Gym dengan 'amunisi' isu poligami dan aktris Okky Setiana Dewi yang dibunuh karakternya oleh petisi tak jelas, hanya gara-gara belum 'bersertifikasi' ustadzah.

Seperti pesan Salim A Fillah, Siapapun kita, bisa mengambil peran di dalam dakwah.

Ia mencontohkan, dalam sebuah pengajian, tidaklah pahala dakwah hanya mengalir kepada juru dakwah yang berbuih-buih mulutnya di depan mimbar. Salim menyebut, mereka yang menyiapkan sound system, mereka yang menjemput ustadz, hingga yang hanya mengirimkan undangan pengajian via SMS atau broadcast pun juga akan kebagian pahala. Dan kita tidak tahu, sesiapa yang paling berat timbangan kebaikannya.

Mari menjadi agen kebaikan dengan menebar banyak kebaikan, jangan 'sok kritis' tetapi malah menjadi agen pembunuh dakwah. Jika memang ingin mengkritik, kritiklah melalui forum tertutup dengan mengundang pihak-pihak yang lebih berkompeten untuk mengkritisi dan menasihati yang bersangkutan.

Niat baik pun membutuhkan cara yang baik, agar maksudnya tersampaikan dengan baik pula.

Wallahualam.

0 comments:

Post a Comment