Thursday, October 27, 2016

Kamu Pun Harus Tangguh, Seperti Para Pemudi di Balik Sumpah Pemuda Itu!






Udah liat videonya?

Saya harap semua terhibur ya.. Soalnya, secara pribadi juga saya lagi nyari-nyari bahan tulisan. Kepikirian juga, masak sih, gelaran Sumpah Pemuda itu yang terkenalnya cuma para cowok tokoh-tokoh pergerakan saja? Nggak ada para pemudinya?

Berangkat dari kegalauan tingkat dewa itu, saya pun googling. Harapannya, bisa menemukan fakta tentang para perempuan tangguh di balik peristiwa bersejarah bagi Republik Indonesia. Sehingga bisa menginspirasi para cewek di zaman sekarang. Bahwa, dulu dengan usia yang beda dikit doang dengan kamu, mereka sudah punya semangat membara untuk mempersatukan Indonesia.

Mereka - di usia mudanya - sudah menunjukkan tekad baja dan mental tangguh! Sehingga, nikmat persatuan dan kesatuan yang kita rasakan saat ini, adalah jua, buah dari perjuangan mereka.

Tapi sekali lagi, pertanyaannya adalah apakah ada tokoh-tokoh perempuan itu? Soalnya selama ini, kita cuma mendengar nama-nama pemudanya saja yang menjadi penggagas lahirnya Sumpah Pemuda.

Nyatanya?  Ada!

Nah, biar afdhal saya musti ada buktinya. Adapun fakta sejarah yang saya kutip di bawah ini, bersumber dari buku resmi Panduan Museum Sumpah Pemuda [1]. Disimak ya..



Begini ceritanya

Pada saat itu hanya 82 orang saja yang tercatat sebagai peserta kongres, dari 700-an yang hadir di Gedung Langen Siswa, Batavia (waktu itu). Dan dari 82 orang tersebut, hanya ada enam orang perempuan yaitu Dien Pantow, Emma Poeradiredjo, Jo Tumbuan (Joanna Masdani Tumbuan), Nona Tumbel, Poernamawoelan, dan Siti Soendari.

Catet ya! Mereka tidak hanya datang, duduk dan diam saja. Tapi mereka juga menyampaikan pandangan, berorasi setara dengan kaum pria - guna menunjukkan rasa nasionalisme mereka.

Dari enam orang perempuan ini, tiga di antaranya berdiri di atas podium menyampaikan pandangan mereka. Yakni, Siti Soendari, Poernamawoelan dan Emma Poeradiredjo.

Dalam kesempatan di hari pertama (27 Oktober 1928), Siti Soendari berbicara di mimbar menggunakan bahasa Belanda. Karena perempuan aktivis ini, menjadi salah satu perempuan pertama Indonesia yang menerima pendidikan Belanda.

Orasinya dalam bahasa londo itu, diterjemahkan atas bantuan Muhammad Yamin. Saat itu Siti Soendari berupaya mengingatkan bahwa rasa cinta tanah air terutama pada wanita harus ditanamkan sejak kecil dan bukan untuk pria saja.

Keren kan? Padahal ya, asal kamu tahu, di masa itu, moncong serdadu kumpeni bisa meletus kapan saja, jika berani mengutarakan tentang isu cinta tanah air dan kemerdekaan. Sesuatu yang dianggap tabu dan bisa menjadi alergi batuk-pilek bagi para penjajah, hehe..

Dan kamu musti tahu nih Say, beberapa tahun kemudian, tepatnya pada 1937, Siti Soendari pun dinikahi oleh Muhammad Yamin. So sweeet... Tebak sendiri saja deh, kira-kira apa yang membuat M Yamin jadi jatuh cinta..

Sedangkan, Emma Poeradiredjo, yang merupakan aktivis Jong Islamieten Bond cabang Bandung ini, menekankan kepada perempuan agar ikut andil dalam pergerakan. Para perempuan agar tidak hanya terlibat dalam pembicaraan, tetapi harus disertai perbuatan.

Nah, ternyata isu emansipasi wanita sudah diangkat di sini. Keren banget kan? Ini menunjukkan semangat RA Kartini telah menyelusup dalam setiap relung sanubarinya.

Lanjut..

Sementara itu, Poernamawoelan, yang juga seorang guru dan juga aktivis ini, menekankan pentingnya arti pendidikan. Saat itu, di tengah sistem pendidikan yang belum baik, ia memandang pentingnya sebuah sistem pembelajaran. Salah satunya dengan sistem pendidikan asrama (Kalo zaman sekarang mungkin seperti sistem boarding school atau mondok di pesantren).

Karena, menurutnya lagi, dengan sistem tersebut anak-anak muda bisa bergaul, belajar, dan bekerja bersama setiap hari untuk membentuk persatuan nasional.

Perlu kamu juga ketahui juga Girls, seusai deklarasi Sumpah Pemuda itu, Emma Poerwadiredjo dan Siti Soendari banyak berperan dalam pergerakan-pergerakan perempuan di Indonesia.

Bayangkan jika mereka saat itu adalah perempuan manja, yang hanya tahu label mode buatan Belanda dan mantengin para tentara bule yang lagi pawai? Dijamin, sejarah pergerakan untuk menggapai kemerdekaan akan amburadul gak bakal ada semangat persatuan pemuda dalam sejarah kemerdekaan republik ini!

Kamu Harus Jadi Perempuan yang Tangguh!

Ayolah, sekarang bukan lagi masa perempuan itu harus manja, kenes, 4l4y, atau apapun sebutannya. Yang mau apa-apa, harus minta pertolongan dari orang lain. Ya nggak? Coba baca tulisan yang ini :  Perempuan Tidak Boleh Selalu Manja, Ini Alasan Kamu Harus Menjadi Perempuan Tangguh! Kamu pasti setuju dengan alasan yang ada.

Dan, kamu memang harus tangguh!

Jika kata Pram, berbuatlah adil sejak dalam pikiran. So, buat kamu-kamu - iya kamu itu - berbuat tangguhlah sejak dalam pikiran. Jangan mau disesatkan oleh apa-apa yang menyebut manja itu menggemaskan.

Menurut Saya - yang masih menjadi suami newbie ini, tak kan ada calon suami yang menghendaki kamu harus bermanja setiap hari dan menggelayut di bahunya terus.

Sembilan tahun menjalani kehidupan rumah tangga, mungkin masih jauh perjalanan bahtera rumah tangga saya. Namun yang pasti, sedikit-banyak kami telah melalui berbagai rintangan dan persoalan hidup.

Menikah, bukan soal mempertahankan kesetiaan semata - karena ini sudah harga mati! Namun lebih dari itu, butuh keteguhan dari seorang perempuan untuk tetap dapat menyertai sang suami di saat suka, maupun duka.

Bersyukur saat diberikan kenikmatan. Dan memadatkan rasa sabar, saat keuangan terganggu. Tabungan mulai terkuras akibat ada anggota keluarga yang sakit. Saat beberapa rencana keluarga harus tertunda, akibat ada rencana keluarga besar mertua/orangtua yang musti didahulukan.

Itu semua akan kamu hadapi.

Kamu tidak terlahir dari rahim seorang permaisuri kerajaan, yang kelak akan mewarisi tahta dan kekayaan hingga pelayan. Kamu ditakdirkan turun ke bumi, sebagai orang biasa yang harus bersaing dengan banyak orang dengan kompetensi rata-rata, atau mungkin lebih di atas kamu. Hidup adalah perjuangan.

Wake up Non, hidup saat ini semakin sulit. Persaingan di segala lini kehidupan butuh mental baja. Seperti kata Pak Jokowi, sudah saatnya kita melakukan Revolusi Mental. Sejak dari diri sendiri dan mulai dari saat ini.

Akur?
Salam.
Dari Pakde Zaki untuk Trivia.id



*Gambar hanya ilustrasi/ tidak menggambarkan semestinya
*Sumber gambar yang digunakan dalam ilustrasi, diambil dari freepik.com. Tribute to freepik.com with free licensed.
[1] Sumber : liputan6.com

0 comments:

Post a Comment