Wednesday, November 23, 2016

Inilah Indahnya Lima Pengamalan Pancasila di Kabupaten Bojonegoro


 

Pancasila sudah final. Tak boleh ada yang mengutak-atik lagi. Titik.

Pancasila bukanlah sekedar identitas yang hanya ingin tampil beda dari identitas bangsa lain. Pancasila bukalah sekedar merchandise yang hanya melekat di baju saat musim tanding bola.
Pancasila adalah nilai luhur yang dibuat oleh para founding father dalam rangka menyatukan banyaknya perbedaan di negeri ini.

Nah, di tengah arus globalisasi dan materialisme yang menyuburkan gaya hidup hedonis dan individualistik, kita masih bisa menemukan atmosfer ke-Bhineka Tunggal Ika-an Indonesia.  

Emang ada? Ada!
Tepatnya di Kabupaten Bojonegoro.

Di sana praktek pengamalan Pancasila di tingkat lokal kemasyarakatannya sangat kental. Mulai dari bagaimana cara mereka menerima perbedaan, memberlakukan perbedaan hingga bagaimana memeratakan pembangunan guna memenuhi asas keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Inilah 5 indahnya pengamalan Pancasila di Kabupaten Bojonegoro



Mengawali Sila Pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, di Bojonegoro ada yang namanya Kampung Kristen yang terletak di Dusun Kwangenrerjo Desa Leran Kecamatan Kalitidu. Disebutkan, keberadaan jemaat kristen di dusun Kwangenrejo desa Leran muncul sejak tahun 1923, saat itu penjajah Belanda masih berada di Indonesia.

Seorang pendeta penyebar bernama Yuli mulai memperkenalkan ajaran Kristen di kampung tersebut. Pada tahun itu juga di daerah tersebut mulai berdiri GKJTU (Gereja Kristen Jawa Tengah Utara) merupakan organisasi agama Kristen protestan yang memiliki pusat sinode di salatiga, Jawa Tengah.

Hingga kini, di daerah tersebut telah berdiri dua buah gereja dan satu mushola yang berdampingan. Berdasarkan thesis Sunarti (2014) dari UIN Sunan Ampel [1], desa tersebut terdiri dari 64 KK dengan jumlah penduduk 180 jiwa. Rinciannya, 51 KK beragama kristen (baik Protestan maupun Katolik), sisanya 13 KK beragama Islam.


Yang menariknya, meskipun terlihat perbedaan yang cukup besar, nyatanya mereka saling menghargai satu sama lain tanpa membedakan agama yang dianut oleh mereka. Bahkan dalam beberapa kegiatan perayaan hari besar agama, masing-masing saling mengucapkan selamat dan tak jarang mereka juga saling melibatkan diri.



Pengamalan sila selanjutnya, tidak kalah agung dari sila yang pertama. Sila Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, ditunjukkan oleh masyarakat dan Pemkab saat menerima dan menyambut eks Gafatar (Gerakan Fajar Nusantara). Sedikitnya ada sepuluh orang warganya, yang sempat menjadi pengikut Gafatar.  Mereka berasal dari Desa Sumuragung Kecamatan Tambak Rejo.

Sumber : bojonegorokab.go.id

Peristiwa yang sempat menghebohkan pemberitaan nasional di awal tahun 2016 tersebut, tak merubah sikap dan kearifan lokal warga setempat. Warga Desa Sumuragung beserta pemerintah setempat dengan melibatkan juga Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), terlibat penuh dalam melakukan pembinaan kepada warga eks Gafatar yang sempat tinggal lama di Kalimantan Utara itu.

Tak hanya melakukan penerimaan kembali (akseptansi), pemerintah pun melalui dinas terkait juga memberikan bantuan kepada eks warga Gafatar. Mengingat, saat mereka memutuskan untuk pergi ke Kalimantan Utara itu, telah menjual habis segala harta benda yang ada di kampung halaman.

Pemkab memfasilitasi proses integrasi warga eks Gafatar tersebut dengan masyarakat di lingkungan asalnya. Selain itu, kepada mereka juga diberikan bantuan sosial yang berasal dari APBD, berkisar 2,5 juta - 5 juta rupiah, termasuk pula mengadakan pelayanan kesehatan dan layanan pendidikan bagi anak-anak yang terlibat Gafatar.

Meninggalkan ego perbedaan di belakang, adalah esensi dari ajaran yang ada di dalam Sila 3 Persatuan Indonesia. Perbedaan adalah rahmat. Selama kita bisa berdamai dengan ego masing-masing. Perbedaan adalah momentum untuk menunjukkan seberapa kelas kita.

Apakah masih mau diributkan dengan hal-hal sepele terus-menerus atau mau menyongsong perubahan yang lebih baik?

Di Bojonegoro, persatuan berhasil ditegakkan berdasar elemen perbedaan yang ada. Kerukunan antar umat beragama yang telah terejahwantahkan dengan baik, telah mendorong para tokoh agama dan tokoh masyarakat memilih untuk mendamaikan perbedaan yang ada dan mencari titik temu yang dapat mempersatukan.

Persatuan yang indah itu mewujud dalam selebrasi antar umat beragama. Yakni partisipasi warga dalam melakukan pengumpulan Dana Rukun Kematian. Selain itu, dua ormas Islam terbesar, yakni NU dan Muhammadiyah telah memberikan teladan yang baik dengan bersama dalam melakukan ibadah dalam satu masjid saja.

 

Tengoklah sila ke-4, kita diajak mengenal indahnya ajaran Pancasila yang mengatur tentang hirarki bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, melalui media musyawarah untuk mufakat. Dalam penerapan di Bojonegoro, jiwa sila ke-4 ini diterjemahkan dalam keterbukaan menyampaikan pendapat.

Pemerintah setempat membuka keran informasi dengan senantiasa menggelar dialog publik demi mendengarkan secara langsung keluhan dan ide-ide demi kebaikan bersama. Selain itu beberapa program terobosan juga telah dilakukan. Di antaranya Aplikasi Lapor, Gerakan Dana Sehat Cerdas (GDSC) serta Wali Amanah Desa.




Kesejahteraan mustahil tercipata jika keadilan sosial tidak hadir di tengah masyarakat. Rasa adil memberikan ketentraman di tengah masyarakat. Pemkab bersama masyarakat Kabupaten Bojonegoro telah berupaya keras dalam menjalankan amanat yang terkandung di dalam Sila 5 Pancasila : Keadilan Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Hal tersebut ditandai dengan banyaknya program inisiatif dari Pemkab Bojonogoro yang intuitif dengan kondisi kekinian. Sehingga dengan mudah mengundang partisipasi masyarakat.

Dari program yang melibatkan partisipasi masyarakat seperti pengelolaan simpan pinjam warga Desa Pajeng Kecamatan Gondang. Ada juga yang disebut Lumbung Kemakmuran Pangan, semacam program ketahanan pangan yang dilakukan sepenuhnya oleh masyarakat.

Program-program lain yang bersifat intuitif-partisipatif seperti Upah Umum Pedesaan (UUP), Dana Abadi Migas, Perlindungan Potensi Lokal, Penyertaan Modal di Bank Jatim hingga Pokja PKK berupa Partisipasi Pendataan Dawis.

Nah, indah sekali bukan. Kesadaran masyarakat tentang perbedaan dan memahami letak perbedaan yang ada tersebut, telah menjadikan perekat persatuan komunal dan pada ujungnya tercipta kondisi sosial yang stabil.

Damai Indonesia, Sejahtera Bangsaku.
Dari Bojonegoro untuk Dunia  
--------------------------------------------------------------------------------------------
Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog Festival HAM 2016 

0 comments:

Post a Comment