Thursday, May 28, 2015

Belajarlah dari Perokok

Belajarlah dari Perokok
 
Belajarlah dari seorang perokok. Yang tahan mengeluarkan anggaran untuk rokok. Entah kotakan, entah ketengan. Entah membeli, entah gratisan. Tapi ia tahu, setiap hari ada bagiannya untuk dapat merokok. Ia contoh menerapkan pasal rezeki untuk merokok. Ada jaminan rezeki dari Gusti Allah, walaupun terselewengkan untuk dibakar menjadi asap nikotin.
 
Belajarlah dari seorang perokok. Tak kenal latar belakang ekonomi, rokok adalah kebutuhan pertama. Tak apa tak makan, asal mulut berasap. Ada persaudaraan di sana. Ada solidaritas menyimak asap bersama-sama.
 
Belajarlah dari seorang perokok. Kecintaannya luar biasa, walaupun ia tahu itu akibat ketergantungan dengan candu di dalamnya. Tak bisakah kita menimbulkan ketergantungan yang sama dengan cita-cita misalnya? Impian masa depan? Jika perokok bisa, kita pin bisa menimbulkan kecintaan yang sama. Buatlah 'candu' agar kita dapat menimbulkan ketergantungan kepada impian besar di masa yang akan datang.
 
Belajarlah dari seorang perokok. Ia tahu konsekuensi dari merokok. Dan ia tahu ada penyakit yang menumpuk dari aktivitas merokoknya itu. Tapi, mereka dengan sabar terus menumpuk lapis demi lapis penyakit di dalam badannya. Tak lupa ia bagi dengan orang sekitar, sebagai asap pasif. Kita pun harus begitu. Kita harus tahu segala konsekuensi dari setiap pilihan yang kita ambil. Dan mulailah sedikit demi sedikit berkomitmen untuk  terus menorehkan lapis demi lapis tapak anak tangga menuju impian yang diidamkan.
 
Paling tidak, ada secuil manfaat positif dari seorang perokok. Setidaknya hikmahnya bisa tertuang dalam tulisan ini.

0 comments:

Post a Comment