Pakdezaki

Keep It Simple Stupid

Home Top Ad

Responsive Ads Here

PERNAH nggak kamu ngerasain. Pagi hari cerah, terus siangnya terik sekali. Tetiba sore langit mendadak berubah menjadi begitu gelap. L...



PERNAH nggak kamu ngerasain. Pagi hari cerah, terus siangnya terik sekali. Tetiba sore langit mendadak berubah menjadi begitu gelap. Lalu selepas Maghrib hujan turun dengan begitu derasnya disertai angin yang bertiup kencang. 

Seperti kata pepatah, panas setahun dihapus hujan sehari. Yang ini, panas sepanjang hari dihapus hujan tak sampai satu jam.

Kalo saya jelas sering banget. Bukan sekali-dua kali, tapi sudah nggak terhitung lagi. Rasanya bukan sesekali kita mengalami hal di atas.

Dan tahukah kamu, apakah kira-kira penyebabnya? Mungkin ada yang jawab, karena cuaca ekstrim. Atau, pemanasan global.

Benar sekali. Tapi apa sesederhana itu saja? 

Ternyata jawabannya saya temukan saat mengikuti kegiatan Forest Talk Blogger yang diselenggarakan oleh Yayasan Dr Sjahrir bekerjasama dengan The Climate Reality Project Indonesia, pada Sabtu (23/3/2019) bertempat di Kuto Besak Theater, Palembang.

Nggak cuma ngebahas, apa penyebab terjadinya perubahan iklim saja. Tetapi juga sangat komprehensif. Boleh dibilang, acaranya lengkap banget. Mulai dari talkshow penuh gizi yang disampaikan oleh para pembicara top - sebut saja ada ibu Amanda Katili Niode manager Climate Reality Project Indonesia, lalu ada juga Dr. Atiek Widayati (Tropenbos Indonesia), Ir. Murni Titi Resdiana, MBA (Kantor Utusan Khusus Presiden bidang Pengendalian Perubahan Iklim) dan Janudianto (Social Comdev CSS PT Sinar Mas).

Hingga gelaran mini pameran yang menampilkan produk-produk hutan non-kayu lokal hingga demo masak dan icip-icip resep cita rasa lokal yang membuat air liur sontak ingin memberontak. Nyummy.. ;p

Yang menariknya, kegiatan talkshow forest talk ini tidak hanya melulu mengupas aneka tragedi terkait dengan bencana lingkungan semata. Namun juga membahas tentang solusi, langkah-langkah yang telah dilakukan serta penerapan solusi tersebut. Termasuk pula, memasukkan isu enterpreneur kreatif sehingga berdampak kepada isu ekonomi. 

Yuk ah, daripada berpanjang lebar di pembukaan saja, simak laporan selengkapnya berikut ini :

Amanda Katili Niode : “Selamatkan Bumi dengan Mitigasi dan Adaptasi”


Membuka pemaparannya Ibu Amanda Katili Niode dari Climate Reality Project Indonesia, menampilkan slide yang cukup membuat shock. Dalam slide itu digambarkan dalam waktu berdekatan, telah terjadi gelombang cuaca panas di Australia yang mencapai +50oC dan telah menyebabkan kebakaran hutan yang sangat luas.

Sementara di belahan bumi lain, sepertiga wilayah Amerika Serikat, diterjang cuaca ekstrim hingga minus -40oC. Saking dinginnya, seperti cuplikan video yang beredar di media sosial, air yang baru keluar dari selang air, langsung membeku saat bersentuhan dengan udara dingin dan jatuh ke tanah sebagai es serut es kristal.

Belum lagi, jika digabung dengan berita lain tentang banjir bandang yang melanda wilayah Arab Saudi dan Iran. Tentu akan menambah panjang daftar tanda-tanda bahwa Bumi sedang mengalami krisis iklim dalam kadar yang sudah sangat serius.


"Kegiatan manusia yang berlebihan, memicu lahirnya apa yang disebut sebagai gas rumah kaca," sampai Ibu Amanda, memecah ketakjuban kami dengan tampilan mengerikan tentang perubahan iklim di atas.

"Akibat pemanasan global yang disebabkan gas rumah yang terkurung dalam atmosfer, maka selama bertahun-tahun, telah mendorong terjadinya perubahan iklim," lanjutnya.

Lebih jauh lagi ia mengingatkan, terjadinya perubahan iklim ini tidak semata akan mempengaruhi sebuah siklus alami saja.

Namun lebih dari itu, dampaknya yang kasat mata adalah datangnya bencana dan penghidupan kemanusiaan yang juga akan terganggu. Dan dalam jangka panjang, perubahan iklim ini juga akan mempengaruhi stabilitas ekonomi dan politik.

Bisa dibayangkan, betapa mengerikan jika negara akan saling menyerang demi mendapatkan bahan pangan? Seperti yang terjadi di era kolonial, di mana negara-negara di Eropa datang mengangkangi kepulauan Nusantara demi memperebutkan rempah-rempah yang sangat berharga bagi mereka untuk menghangatkan badan kala musim dingin.

Soal Emisi Gas Rumah Kaca   


Kalau dilihat dari ilustrasi di atas, dapat dilihat dengan mudah, jika penyebab utama meningkatnya karbon dioksida di atmosfer adalah kegiatan manusia di bidang transportasi dan industri. Namun jangan salah, soal emisi gas rumah kaca ini bukan keduanya yang menjadi biangnya.

Masih dalam pemaparan Ibu Amanda, penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar di Indonesia adalah justru dari penggunaan lahan/ kehutanan, sebesar 61,6%. Sangat tinggi dibanding aktivitas energi yang ‘hanya’ 26,2%.

Lho kok bisa? Jadi begini ceritanya gaess..

Dalam siklus karbondioksida, pohon sebagai salah satu unit ekosistem yang penting, akan menyerap karbondioksida (CO2) yang ada di udara. Nah, unsur karbon tadi akan disimpan oleh pohon di batang, daun dan tanah.


Istilahnya bio massa. Sabar ya, ini akan dibahas pada bagian berikutnya.

So, jika pohon ditebang, kemanakah karbon tadi akan pergi? Apakah ikut mati dan roboh ke tanah? Ternyata tidak gaess, karbon yang diikat erat oleh pohon akan kembali dilepas ke udara!

Sebagai gas ia akan berikatan kembali dengan oksigen dan membentuk karbondioksida. Bagaimana jika yang ditebang banyak pohon dalam satu wilayah? Itu namanya kegiatan deforestrasi.

Sudah tentu akan semakin banyak karbondiosida yang dilepas ke atmosfer. Bergabung dengan CO2 yang berasal dari sumber lain, maka semakin banyak kadar CO2 yang memenuhi atmosfer, mengurung ultra violet yang seharusnya kembali ke ruang angkasa.

Maka suhu bumi akan meningkat. Dan akibatnya sudah kita rasakan saat ini.

Jika memang pemanasan global sudah terjadi, apakah ada tanda-tandanya? 

Ibu Amanda sudah punya jawabannya. Beberapa tanda-tanda tersebut, misalnya, “Tinggi muka air laut akan meningkat, suhu secara global naik, suhu permukaan samudera akan memanas, mulai terjadi kejadian ekstrim yang terkait dengan cuaca seperti contoh di Amerika dan Australia di atas.
Termasuk pula, pengasaman samudera serta laju pelelehan es di kutub semakin meningkat,” ungkap Ibu Amanda dalam pemaparannya.

Duh, kasihan sekali ya Bumi kita. Jika keadaan sudah demikian sekarat, apa yang masih bisa kita perbuat?

“Banyak,” ujarnya, “Untuk itulah alasan kita berkumpul di sini, agar bisa melihat permasalahan hutan dari berbagai sisi. Dari berbagai vendor yang bersedia berbuat untuk kelestarian hutan. Bukan senantiasa mengangkat isu bahwa hutan kita sudah sedikit. Bahwa hutan kita sudah habis dirambah..,” tegasnya.

Iya juga sih, setuju Bu. Seperti ujaran bijak – Daripada mengutuk kegelapan, lebih baik segera menyalakan lilin. Begitu kan Bu?

Lalu Apa Solusinya?


Masih dalam sesi Ibu Amanda, ia menawarkan solusi dalam menghadapi perubahan iklim ini. “Ada dua solusinya. Yakni mitigasi dan adaptasi,” ucapnya.

Istilah mitigasi, katanya, mungkin sudah sering kita dengar saat terjadi bencana. “Nah, dalam konteks perubahan iklim ini, upaya mitigasi ini meliputi usaha memperlambat proses perubahan iklim global, caranya dengan mengurangi level gas-gas rumah kaca di atmosfer dan mengurangi emisi dari kegiatan manusia,” urainya.

Sementara upaya adaptasi, adalah mengembangkan berbagai cara untuk melindungi manusia dan ruang dengan mengurangi kerentanan terhadap dampak iklim dan meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim global.

“Salah satu upaya yang dekat dengan kehidupan kita adalah soal pola makan. Jika secara global kita mengurangi daging dan menambah buah-buahan dan sayur-sayuran, dapat menyelamatkan 8 juta hidup manusia pada 2050,  menghemat biaya kesehatan & kerusakan iklim US$1,5 triliun,” pungkas Ibu Amanda yang tampil cantik pagi itu dengan menggunakan selendang jumputan warna hijau lumut.

Atiek Widayati : "Pengelolaan Hutan dan Lanskap yang Berkelanjutan" 


Dalam sesi kedua, yang menjadi pembicara adalah Dr Atiek Widayati dari Tropenbos Indonesia. Ehm, orangnya asyik nih. Masih muda, sudah Doktor pulak. 

Ok, Fokus.

Dr Atiek mengangkat masalah hutan. Jadi, masih sesambungan dengan materi yang disampaikan oleh Ibu Amanda sebelumnya, bahwa kegiatan pemanfaatan lahan/hutan memberikan kontribusi kepada peningkatan Emisi Gas Rumah Kaca, - maka pada sesi ini, seluruh tentang hutan benar-benar dikuliti habis.

Mengawali sesinya, Dr Atiek mengingatkan kembali para audiens tentang hutan, "Hutan adalah suatu wilayah dengan luasan lebih dari 6,25 ha dengan pohon dewasa lebih tinggi dari 5 meter dan tutupan kanopi lebih besar dari 30 %," ujarnya.

Kanopi yang dimaksud adalah tutupan rerimbunan daun yang cukup menghalangi jatuhnya sinar matahari ke permukaan tanah atau semak di bawahnya. Jadi bisa dibayangkan ya, apa yang disebut sebagai hutan menurut pengertian baku.

"Sedangkan dalam konteks lanskap hutan, meliputi seluruh jenis aktivitas yang ada di dalam hutan, di sekitar hutan hingga pemanfaatan hasil hutannya sendiri. Seperti keberadaan hewan, ekosistem di dalamnya, pemanfaatan produk kayu, masyarakat sekitar hutan yang mengambil manfaat dari hutan, seperti kayu, buah, madu dan lainnya," urai Dr Atiek.

Sering meningkatnya jumlah penduduk dan kebutuhan akan produk kayu untuk skala industri, maka keberadaan hutan di Indonsia pun mengalami dinamika.

Sebut saja beberapa istilah yang terkait dengan konversi hutan dan perubahan tutupan lahan.

"Kita mengenal ada dua bentuk konversi hutan, yakni deforestasi dan degradasi hutan," ungkap Dr Atiek lagi.

"Deforestrasi Hutan, merupakan perubahan permanen dari areal berhutan menjadi areal tidak berhutan atau tutupan lainnya sebagai akibat dari aktifitas manusia. Seperti perubahan lahan di hutan rawa gambut." (Lihat gambar di bawah)

Biasanya, deforestrasi ini merupakan pembukaan hutan, kemudian diambil manfaatnya lalu tidak berupaya segera dikembalikan lagi bentuk dan fungsinya. Ibarat kata, habis manis sepah dibuang.  


Yang kedua, lanjut Dr Atiek, adalah degradasi hutan. Yakni, jenis perusakan hutan yang tidak semasif deforestrasi, tetapi tetap menunjukkan tanda-tanda penurunan kualitas hutan, seperti tutupan/kanopi, biomassa atau aspek lainnya.   

Sementara itu, untuk contoh-contoh konversi hutan yang 'lebih manusiawi' yakni :

Dalam skala besar terjadi pembalakan/penebangan hutan, hutan pun berganti status atau alih fungsi. Lahan yang telah diambil manfaatnya ditanami pepohonan yang lebih bernilai ekonomi tetapi juga memiliki tutupan yang baik, seperti hutan akasia dan kelapa sawit. 

Sementara untuk skala kecil / masyarakat, konversi hutan yang terjadi adalah, penebangan yang dilakukan oleh masyarakat. Biasanya tidak akan sebanyak yang dimanfaatkan oleh industri kayu. Kemudian dijadikan ladang (berpindah). Setelah tidak subur lagi, dijadikan pertanian lahan kering, dan berubah menjadi perkebunan rakyat. Semacam kebun di tengah hutan (agroforest). 

Nah, terkait peningkatan emisi gas rumah kaca dengan kegiatan pemanfaatan lahan/hutan ini berikut penjelasan dari Dr Atiek.

"Mungkin kita telah mendengar tentang biomasa pada waktu sekolah dulu. Nah, dalam kajian kehutanan, ada yang disebut sebagai biomasa vegetasi. Yakni kemampuan penyerapan karbon dari CO2," sebut Dr Atiek.

Ia mencontohkan, cadangan karbon dari hutan adalah sebesar 200 ton karbon per hektar (C/ha) Sangat besar jika dibandingkan dengan semak-semak yang hanya 15 ton C/ha.

"Lalu, bagaimana jika terjadi kegiatan konversi hutan, deforestrasi, peladang berpindah dan lainnya, yang menebang pohon-pohon besar lalu berubah menjadi semak-semak rerumputan perdu? Secara matematika sederhana pun akan diketahui, bahwa kita akan kehilangan sebesar 200 ton C/ha - 15 ton C/ha = 185 C/ha", lanjutnya.

Jadi bayangkan, jika ada 10 hektar saja hutan yang ditebang dan menjadi semak, maka kita akan kehilangan karbon sebanyak 185 x 10 = 1.850 ton karbon!

"Tidak berhenti sampai di situ, kita pun bisa menghitung berapa karbondioksida (CO2) yang dihasilkan dari faktor konversi karbon. 1 ton karbon = 3,67 ton CO2 ekivalen. Ambil contoh kasus tadi, maka dari 1850 ton karbon akan terbentuk sebanyak 1850 x 3,67 maka akan menghasilkan emisi 6.800 ton CO2 ekivalen yang dilepaskan ke atmosfer," papar Dr Atiek ini.

Wah makin seram ya. Itu baru satu titik saja. Bagaimana kalo seluruh nusantara dihitung, tambah ngerih-ngerih gitu lihat angkanya..

Mengkanya, jangan sembarangan membuka lahan ya.. Kasihan bumi. 

Lalu, apa solusinya?

"Upaya mengembalikan ‘fungsi’ hutan melalui pengelolaan lanskap berkelanjutan," usul Dr Atiek. Yakni dengan melakukan konversi hutan menjadi pertanian/perkebunan dan mengembalikan "fungsi" hutan.

Dengan upaya ini, alur deforestrasi konversi lahan akan menunjukkan grafik positif. (lihat gambar di bawah)



Bagaimana masyarakat umum dapat berkontribusi? "Sangat bisa. Masyarakat umum yang tidak berhubungan langsung dengan hutan tetap dapat berkontribusi secara tidak langsung," sambung Dr Atiek bersemangat.

Caranya dengan mendukung pelestarian hutan yang ada. Minimal tahu dan paham serta tidak 'menghalangi'. Maksud menghalangi di sini, menurut hemat penulis, seperti mencibir, nyinyir di media sosial, menyebarkan kabar yang tidak benar dan lainnya.

"Selanjutnya, cara yang kedua adalah mendukung hasil hutan bukan kayu. Manfaat yang bisa diambil di hutan bukan hanya kayu saja loh. Ada rotan, ada madu, biji-bijan, aneka rempah dan sebagainya," sebut Dr Atiek.

Menumbuhkan pohon tentu memerlukan waktu yang sangat lama. Sementara dengan memanfaatkan hasil hutan non kayu akan memberikan kesempatan pohon untuk hidup lebih lama. Dan dalam waktu yang lama itu, pohon akan memberikan banyak manfaat dan keberkahan bagi ekosistem di sekitarnya.

"Pemanfaatan jasa ekosistem hutan, seperti pemanfaatan sumber air yang masih murni dan terjaga. Wisata alam seperti jelajah hutan atau pendakian, yang tetap memperhatikan kelestariannya," imbuhnya lagi.

Dan yang tak kalah penting adalah mendukung ekonomi masyarakat tepi hutan. Bagaimanapun, kelompok masyarakat ini yang duluan akan memberikan dukungan bagi kelestarian hutan mereka. Karena mereka paling dekat dan paling mendapatkan manfaat dari hutan.

Sehingga, sudah sewajarnya kita juga mendukung kegiatan ekonomi mereka agar keberlanjutan siklus hidup tidak terganggu dan menggoda mereka untuk melakukan aksi yang destruktif saat kebutuhan ekonomi mereka tidak tertutupi.

Ir Murni Titi Resdiana, MBA : "Pohon dan Ekonomi Kreatif"

Mbak Ir Murni Titi Resdiana, MBA 
Pembicara pada sesi ketiga ada Mbak Ir Murni Titi Resdiana, MBA dari Kantor Utusan Khusus Presiden bidang Pengendalian Perubahan Iklim dengan materi super cantik, Pohon dan Ekonomi Kreatif.

Di mana dalam pembahasannya, Mbak Murni menyinggung soal kebijakan perubahan iklim Indonesia yang tertuang dalam dua kebijakan penting yakni Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (RAN-GRK) dan Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim (RAN-API).

Pas ya dengan dua solusi yang ada dalam materi pembuka dari Ibu Amanda tadi, yakni Mitigasi dan Adaptasi.

Selain itu, Mbak Murni juga mengingatkan betapa hutan kita ini kaya akan jenis-jenis pepohonan endemi yang kaya manfaatnya.

"Kita punya banyak sekali varietas tanaman yang bisa dimanfaatkan secara ekonomi dan memancing kreativitas," ujarnya.

Dia mencontohkan, tanaman yang kita punya mempunyai potensi di dalamnya. "Ada pohon yang bisa digunakan sebagai sumber serat, sumber pewarna alam, bahan kuliner, bahan baku furniture, dekorasi hingga minyak atsiri," ungkapnya.

Mengapa menanam pohon untuk ekonomi kreatif ini menjadi penting? Karena biasanya, dalam skala kecil kegiatan ekonomi ini bergerak dalam bentuk UMKM. Sementara, UMKM sendiri mampu menyumbang peningkatan pertumbuhan ekonomi secara nasional sekian persen.

Jadi ibaratnya, sekali dayung tiga-empat pulau terlampaui. Melestarikan hutan, menghidupkan ekonomi masyarakat di tepi hutan, meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan menciptakan lapangan kerja.

Tuntas Mbak Murni dilanjutkan oleh Mas Janudianto Social Comdev CSS PT Sinar Mas, yang membuka wawasan tentang Desa Makmur Peduli Api yang terkait erat dengan pemaparan dari DR Atiek tentang mendukung ekonomi masyarakat tepi hutan.

Namun, berhubung waktu juga yang membatasi, (cie.. serasa acara nikahan nih). Waktu deadline sungguh sangat mefet sekali, udah jam 11 malem nih, kasihan Amir Taufik "Daeng Battala" Gobel yang sudah agak suntuk nungguin para pengabdi deadline, belum juga tuntas setor tulisannya. Hihihi..

Maka saya cukupkan dulu tulisan sampai di sini. Jujur sih, acaranya bagus banget. Bener-bener buka wawasan dan juga mengingatkan kembali sesungguhnya Bumi sekarang sudah sangat-sangat kritis. Ancaman perubahan iklim sudah tidak main-main.

Namun, di tengah kekhawatiran itu semua, kita masih bisa berbuat. Mulai dari hal yang kecil, mulai dari diri kita sendiri dan mulai dari sekarang! Paling minimal, mulai dari sekarang, bawa kantong plastik sendiri kalo lagi ke pasar ataupun ke mini market.

Galeri Foto

Memang acara kemarin itu, luar biasa konsepnya. Ada pemateri top, ada pameran mini hasil hutan non kayu, ada praktek Eco Print, ada praktek masak dan acara puncaknya (eh?) icip-icip masakan untuk makan siangnya.

Seru, karena baru kali ini acara resmi ada gulai pindang iwak gabus! Ck-ck.. sampai nulis ini saja masih terbayang kuah pindang panasnya, dengan asap yang mengepul-ngepul..

Tapi kemarin khilaf jadi nggak sempat foto lagi. Haha.. (*)  

Gantungan kunci keren dengan mengambil ikon-ikon khas Kota Palembang. Ada Jembatan Ampera, Ikan Belida sampai ke klenteng Hok Tjing Rio yang ada di Pulau Kemaro.

Aneka bahan pewarna alami dari kulit pohon, yang dapat digunakan dalam proses jumputan maupun eco print.

Nah, ini nih yang keren dan maskulin banget. Aneka gelang yang terbuat dari kayu dan bahan alami hasil hutan lainnya.

Minat? Itu kain jumputan loh, tapi dengan pewarna alami. Ada juga kain yang dibuat dengan metode Eco Print.

Ada juga stand dari APP Sinar Mas yang memperkenalkan beberapa produk olahan dari desa binaan.

Ini nih nama lapaknya, Galeri Wong Kito. Jaturi yang nak mampir..

Proses penutukan eh Eco Print dengan berbahan daun-daun alami. Keren banget! Sesuatu yang nggak disangka-sangka ternyata mampu memberikan hasil dan kualitas yang memukau.

Udah agak capek menerima pemaparan materi yang super duper padat, saatnya dilonggarkan dengan melihat aksi chef tuan rumah membuat beberapa menu.


Salah satu kesalahan fatal yang seringkali menghinggapi para desain grafis pemula, adalah keinginan untuk menampilkan karyanya sebagus mungi...

Salah satu kesalahan fatal yang seringkali menghinggapi para desain grafis pemula, adalah keinginan untuk menampilkan karyanya sebagus mungin, dengan warna yang wah, teknik paling mutakhir dan kaya akan efek-efek canggih.


Apakah salah? Saya berkeyakinan, di dalam dunia kreatif desain, tidak ada salah atau benar. Yang ada hanyalah, apakah sudah tepat sasaran dan apakah karya tersebut memberikan manfaat yang setimpal dengan value-nya?

Kembali lagi, kesalahan fatal tersebut terjadi karena mereka ada satu yang terlewati. Yakni, lupa akan pesan apa yang ingin disampaikan. Apa big idea yang ingin dimasukkan ke dalam alam pikiran audiens.

Jangan lupa, bahwa karya desain adalah salah satu bentuk media informasi. Sehingga, sebagai bentuk media, maka ada pesan yang ingin disampaikan kepada audiens.

Maka tak heran, jika ada gambar yang sangat bagus, namun hampa. Nirmakna.

Jadi, buat kamu (dan saya juga sebenarnya) yang ingin terjun ke dunia kreatif grafis, mulailah untuk lebih tertib dalam berkarya. Jangan apa-apa, sudah memikirkan efek yang ingin dicapai. Tools apa yang ingin digunakan.


Itulah mengapa para desain profesional, mampu menghasilkan karya yang benar-benar orisinil. Karena mereka berpikir mulai dari pesan apa yang ingin disampaikan. Dari sana mereka mulai mengumpulkan bahan pendukung, riset kecil-kecilan dan baru eksekusi.

Jika masih mengutamakan alat dan efek yang ingin digunakan, maka yakinlah, karyamu akan terjebak pada stereotype desain orang banyak. Generik dan tidak menarik.

Tabik. (*)


AKHIRNYA, lembar terakhir kalender dinding tersibak juga. Tergantikan dengan kalender baru berangka 2019. Tahun baru 2019. Mau mengucapkan t...

AKHIRNYA, lembar terakhir kalender dinding tersibak juga. Tergantikan dengan kalender baru berangka 2019. Tahun baru 2019. Mau mengucapkan tahniah, rasanya tak elok. Tapi biarlah sama-sama menganggukkan kepala, bahwa pagi ini sudah memasuki tahun baru.


Sudah buat resolusi belum? Sudah ya? Syukurlah.. Kalau aku sih belum tuntas. Masih evaluasi dan mereka-reka, pencapaian apa yang telah aku dapat di tahun 2018 lalu.

Dari segi finansial, ‘karir’ freelance, kesehatan, keluarga, ruhiyah dan lain-lain..

Dari segi finansial, alhamdulillah tetap terjaga. Meski naik turun, sumbernya berubah-ubah. Angkanya sepertinya tetap, antara Rp5 juta sampai Rp7 juta. Antara loh ya, bukan berarti tetap di angka maksimum.

Untuk biaya hidup di kota Palembang dengan anak dua yang sudah bersekolah SD, cukuplah..

Sementara untuk karir freelance, bakal nambah satu lagi jadi web admin. Tapi belum fix, walaupun sudah deal. Ada juga tawaran dari seorang teman yang mengajak menjadi manager di bidang book publishing. Tapi belum fix dan malah belum deal juga.

Mungkin keduanya bakal ada kejelasan di awal tahun ini. Mudah-mudahan saja, paling tidak bisa menambah pemasukan keluarga.

Resolusi aku di tahun 2019 ini, ingin mengurangi kesibukan tapi penghasilan bertambah. Kualitasnya dinaikkan, kuantitas diturunkan.

Biar apa? Biar enak saja. Ada banyak waktu untuk keluarga, ada waktu untuk mengurus project blog adsense dan untuk membangun proyek rumah juga.

Sehingga untuk ibadah juga biar lebih khusyuk. Karena, harus diakui. Selama tahun 2018, ruhiyah cenderung menurun. Tidak ada alasan lain, kecuali futur saja. Shalat ke masjid males-malesan, tahajud sudah jarang. Sedekah pun begitu juga, minim banget.

Ah, malu aku mengakuinya.

Saat ini, pekerjaan freelance ku ada lima. Beritapagi, dompet dhuafa, sumselsatu, sumselupdate dan Infosekayu. Rencananya akan aku kurangi tiga, dan menambah dua lagi.



Nominalnya insya allah meningkat, dengan jumlah pekerjaan yang menurun. Mudah-mudahan saja..

Resolusi lain, di bidang ruhiyah, aku ingin kembali fitrah. Mengakrabi kembali majelis ilmu, menekuri kitab-kitab klasik, menghafal juz 30 dan ayat-ayat pilihan. Yang tak kalah penting juga, aku ingin mengamalkan sunnah-sunnah harian.

Sementara skill yang ingin aku tingkatkan di tahun 2019 ini adalah kemampuan menulis dan berpikir. Menulis lebih mengalir, runut dan enam dibaca. Sekaligus juga bisa berpikir logis. (*)

Hari ini (6/12/2018), tepat 4 hari Muhammad Fathir Maulana berkhitan. Senyumnya sudah mekar dan kembali ceriwis bercuit, meski masih belum s...

Hari ini (6/12/2018), tepat 4 hari Muhammad Fathir Maulana berkhitan. Senyumnya sudah mekar dan kembali ceriwis bercuit, meski masih belum sembuh benar dan tetap menolak untuk memakai sarung.. 😀


Luka bekas khitan sudah mengering, beberapa bagian juga mulai mengelupas, masih menyisakan gumpalan hitam yang lengket di bawah kemaluannya. Mungkin darah kering atau apalah. Sampai tulisan ini dibuat, saya masih belum berhasil membujuknya untuk menyapuhnya dengan air hangat kuku agar segera lepas. Padahal tangan ini sudah greget sangat. 🙂

Senin (3/12/2018), Fathir dikhitan. Sekolahnya belum libur panjang tengah tahun sebenarnya. Tetapi, berhubung sudah ujian semester dan kelasnya dipakai oleh para kakak kelasnya ujian, maka seluruh Kelas 1 diliburkan selama seminggu. Maka kami pun mempercepat agenda khitannya, yang semula rencananya akan digelar pada libur panjang.

Fathir berkhitan atas keinginan sendiri dan tanpa paksaan sama sekali. Hanya hadiah berupa action figure Optimus Prime ukuran jumbo dan kotak pensil Ironman, yang membuatnya tambah menggebu-gebu ingin segera dikhitan.

Malah sehari sebelum dikhitan, ia bilang begini. “Athir dak sabaran lagi, malam ini be disunatnyo Bi..,” celotehnya polos.

Hihi.. ada-ada aja.

Sebenarnya, motivasi utama Fathir mau disunat, karena ingin jadi imam shalat. Karena, dia bosan jadi makmum terus. Ia tampaknya ingin sekali mengimami Umi dan Ayuk Siti. Tapi, Uminya selalu bilang, “Wong belum besunat, dak boleh jadi imam..”

Jadilah itu menjadi motivasi kuatnya. Walaupun, sejauh ini baru surat Al Fatihah dan Al Ikhlas saja yang ia hafal.

Senin (3/12), pukul 9 pagi, D-Day pun tiba. Mantri Hasani Rai bersama seorang asisten datang ke rumah. Sedikit basi-basi sepanjang setengah batang kretek, prosesi pemotongan kulup pun dimulai.

Fathir begitu riang. Ia sendiri yang langsung ambil posisi terlentang di atas kasur. Mantri sempat menyapa sebentar bujang kami, dan ia pun langsung bekerja.

Njus-njus..

Dua suntikan penenang lokal mendarat di bawah kulit atas dan bawah. Fahthir meringis menahan sakit. Sepanjang operasi sirkumsisi, cuma erangan yang sesekali keluar dari mulutnya. Sambil terengah-engah menahan kemaluan yang rasanya seperti “dikuliti”.

Sempat ditenangkan oleh shalawat Abi dan mbah Ti di atas kepalanya. Sedang Uminya mengambil video momen bersejarah tersebut.

Tak lama, efek bius tampaknya sudah bekerja. Fathir tidak merasakan sakit yang berarti. Malah penasaran ingin melihat secara live proses khitan dirinya sendiri.

“Apo sudah dijahit Bi?” tanyanya.

Belum sempat saya menjawab, sang mantri langsung menyambar, “Emangnyo pakaian, nak dijahit,” senyum mantri bermaksud menggoda.

Saya menelan ludah dan tetap mengumbar senyum. Secara tidak terbiasa berbohong dengan anak. Kalo memang sakit ya bilang sakit, kalo memang luka ya bilang luka. Yang penting tidak menakuti, apalagi sampai melebih-lebihkan.

Tak jauh dari TKP, dua orang sepupunya, Arle dan Zaki, ikut menyaksikan momen tersebut dengan air muka meringis-ringis ngerih. Emang dasar anak kecil ya, padahal sudah diusir, masih saja hinggap dekat Pak Mantri yang sedang bekerja..

****

Setelah beres, Saya menghembuskan nafas panjang. Rasanya lega sekali, selesai mengkhitan anak bujang. Satu fase berharga kehidupannya terlewati.

Saya juga bangga, walaupun usianya belum genap menginjak tujuh tahun, nyatanya ia kuat sekali. Tidak menangis saat dikhitan. Usaha para sepupunya yang berusaha menakut-nakuti sejak sore kemarin hingga pagi tadi, tampaknya gagal total. Dan Saya pun tersenyum, rasanya mewakili suatu kemenangan kecil..

Bujangku sudah berkhitan! Ia siap menjadi imam.. (*)

AMIR seorang freelance – sebut saja begitu, dalam kurun waktu enam bulan terakhir, ia mencatat, penghasilannya berada di angka rata-rata Rp6...

AMIR seorang freelance – sebut saja begitu, dalam kurun waktu enam bulan terakhir, ia mencatat, penghasilannya berada di angka rata-rata Rp6 juta/sebulan. Menariknya, jika ditulis di atas kertas, palingan ia hanya akan menerima Rp3 juta saja per bulannya dari honor reguler.


Lalu dari mana asal yang separuh lagi? Rupanya, soal rezeki memang selalu ajaib.

Mari coba kita urai, penghasilan Amir tadi.

Di bulan pertama, ia mendapatkan honor Rp6 juta lebih dari sebuah penerbitan. Di luar honor reguler yang ia terima. Sehingga Amir bisa mengamankan penghasilannya selama dua bulan ke depan.

Bulan kedua, tak terlalu banyak pemasukan. Ia masih bertahan dengan honor bulan kemarin, ditambah honor reguler bulan berjalan.

Masuk bulan ketiga, rupanya ia menang sebuah perlombaan penulisan sebesar Rp2 juta. Lalu, ia juga diminta menjadi penulis tamu di dua website berbeda, dan mendapat pembayaran Rp1 juta. Total pendapatan tambahannya Rp3 juta.

Ia pun memberikan uang untuk mertua dan orangtuanya, masing-masing Rp500 ribu.

Bulan keempat, tetiba kawan lamanya yang bekerja di perusahaan migas menelpon. Minta dibuatkan desain safety poster sebanyak 6 buah. Tanpa mengajukan penawaran, ia dibayar Rp2,5 juta oleh kawannya itu.

Ditambah dengan fee sebagai penulis tamu yang masih berjalan dan honor reguler, maka total di bulan keempat itu ia menerima Rp6,5 juta.

Ia pun membeli beberapa peralatan untuk pekerjaannya.

Bulan kelima dan keenam sama saja.

Selalu “ada saja jalannya”, yang menjadikan total penghasilan per bulannya berada di angka Rp6 jutaan sebulannya. Entah dari lomba, order jasa yang datang tiba-tiba dan sebagainya.

Apakah anda juga pernah merasakan hal yang sama?

Kotak Rezeki
Konsep inilah yang telah saya amati cukup lama dan saya menyebutnya sebagai kotak rezeki. Setiap mahluk yang diciptakan oleh Tuhan, telah membawa kotak rezeki masing-masing. Dalam bahasa Al Quran, setiap mahluk telah dijamin rezekinya oleh Allah Swt.

Seperti yang disebut oleh ayat yang bagus sekali ini, “… dan tidak satu pun makhluk bergerak di bumi melainkan dijamin Allah rezekinya.” (QS Hud : 6).

Hingga hewan kecil yang melata di dasar lautan dalam saja pun telah dijamin oleh Allah Swt, apalagi manusia yang dibekali dengan akal; daya cipta, rasa dan karsa. Tentu saja, kotak rezekinya akan lebih besar daripada ukuran kotak rezeki mahluk laut tadi.

Rezeki, menjadi hal yang sangat menarik untuk diperbincangkan. Terutama bagi para kepala keluarga yang memiliki tanggungan hidup. Tak heran jika kemudian kajian apapun tentang rezeki, akan memancing keingintahuan banyak orang.

Saya meyakini, setiap orang sudah mempunyai kotak rezekinya masing-masing. Lengkap dengan size kotak rezeki yang sudah pas. Mau bagaimanapun, karena kotak rezekinya segitu, maka jumlahnya pun akan sama diterimanya dalam kurun waktu yang tertentu.

Baik bagi pegawai negeri atau orang gajian, maupun dengan orang non-gajian, pekerja serabutan, pekerja lepas atau pekerja profesional mandiri.

Kita kerap menyebutnya, dengan sebutan “Ada saja jalannya”, atau “Rezeki tidak akan tertukar” atau jika belum mendapatkannya, akan muncul ungkapan “Belum rezekinya”. Begitulah.

Dan ungkapan ini, tentu saja tidak lahir begitu saja. Usianya bisa saja lebih tua dari kita malahan. Ia merupakan ungkapan yang lahir dari pemikiran dan kebijakan pandangan orang-orang tua kita yang tentu saja dituntun dengan keyakinan beragama mereka.

Di luar semua itu, konsep kotak rezeki ini bukannya tanpa ujian.

Kita tetap harus mewaspadai bentuk “rezeki” yang sejatinya bukan milik kita namun akhirnya kita makan. Orang memberi uang, karena jabatan yang kita punya, namanya gratifikasi. Orang berterima kasih karena dimudahkan urusannya, lalu menjulurkan amplop itu membudayakan budaya “salam tempel”. Membuat tarif atas pekerjaan administrasi di kantor di luar aturan, ‘Awas itu pungli!’.

Bisa jadi ada orang yang datang kepada kita dengan membawa proyek bancakan bernilai ratusan juta, dengan syarat dan ketentuan kolusi yang berlaku. Waspadai godaan kongkalikong.

Dan semuanya tidak halal untuk masuk ke perut. Lebih-lebih menyebutnya sebagai rezeki. Ah, kamu tega Rangga..

Di sinilah, kita juga harus meyakini, jika kita menolak sejumlah rezeki – yang kelihatannya datang kepada kita, namun sejatinya bukan hak kita, maka, Allah Swt akan menggantinya dengan rezeki yang sama lewat jalur yang halal. Yakin sajalah..

Seperti pesan sebuah plank di pinggir jalan, “Hasil Korupsi bukanlah Rezeki untuk anak dan isteri di rumah!”

Bersabarlah, insya allah, rezeki tetap akan milik kita. Dan melalui jalan yang lebih baik. “Dan kepunyaan Allah kepemilikan segala yang ada di langit dan yang ada di bumi, dan kepada Allah-lah dikembalikan segala urusan” (QS Ali Imran : 109).

Tabik! (*)

Sini Vroh , saya mau cerita. Jujur saja, saya tidak punya mimpi sama sekali bahkan membayangkan pun tidak. Jika hari ini, saya ‘terpilih’ ut...

Sini Vroh, saya mau cerita.

Jujur saja, saya tidak punya mimpi sama sekali bahkan membayangkan pun tidak. Jika hari ini, saya ‘terpilih’ utuk menjalani profesi sebagai editor dan pengunggah berita di laman portal berita. Sekaligus pula, merangkap pekerjaan sebagai graphic visualizer dalam kurun waktu 24 jam yang sama.


Tidak pernah.

Mana ada dulu yang namanya pengupload berita. Mengoreksi kata dan redaksional berita sebelum kemudian dinaikkan ke website?

Makanya, ketika ada yang nanya saya kerja di mana. Dari sepuluh orang nanya, bisa jadi saya berikan sepuluh jawaban yang berbeda. Fiuh..

Mulai dari ilustrator, desain grafis, editor, news uploader, layout man, blogger, publisher, web administrator, kartun, karikatur, vector art, penulis konten dan lain-lain. Semuanya saya jabanin secara online.

Flashback dikit, jelang akhir SMA, berdasar informasi singkat di televisi waktu itu, bahwa Indonesia tengah membutuhkan banyak insinyur. Sedangkan insinyur ini, kuliahnya di Fakultas Teknik. Maka mendaftarlah saya ke UMPTN mengambil jurusan Teknik Mesin, dan ya lulus..

Tapi, nasib dan minat mengantarkan saya bekerja sebagai seorang ilustrator di sebuah suratkabar lokal dan amil zakat di salah satu lembaga kemanusiaan di Palembang. Jadi, benar-benar gak kepikiran jika kemudian suratan takdir menggeser saya dari jalur insinyur menjadi ilustrator.

Soal jalur nasib siapa yang tahu. Manusia boleh berencana, Tuhan yang menentukan.

Beruntung pada saat itu, adalah masa kelahiran internet broad brand menggantikan internet dial up. Sehingga, saya bisa mulai menjelajahi internet kecepatan tinggi untuk mulai mencari penghasilan secara mandiri via online.

Sampai kemudian, saya memutuskan untuk resign satu per satu dari berbagai pekerjaan reguler dan memilih menjadi seorang freelancer. Ya, saya memilih untuk membuat zona nyaman sendiri. Apalagi, perkembangan teknologi saat ini sudah sangat mendukung untuk menjadi seorang freelance full time.

Sejak resign per tahun 2011, satu persatu alat kerja saya lengkapi secara mandiri. Modem dulu, lalu beli PC sendiri, scanner dan printer dari project pekerjaan ngartun, dari kawan yang kerja di BUMN. Lalu, rezeki bujang soleh dapat hadiah laptop, ipad dan smartphone dari lomba dan seterusnya.

Ya, semuanya bisa saya peroleh dari aktivas kerja di era digital. Istilah saya, Delima alias D5 : Duduk Depan Desktop Dapet Duit. Muehehe..

Tahun-tahun berikutnya, secara paralel saya juga melepaskan beberapa pekerjaan yang mengikat. Dan satu niatan yang saya pegang waktu itu adalah mewujudkan work from home. Bekerja dari rumah. Atau tepatnya bekerja darimana saja. Asalkan dekat dengan keluarga, fleksibel mengatur jam kerja, dan yang pastinya, ikut bertumbuh kembang bersama anak-anak.

Alhamdulillah, berkah era digital, kini saya sudah 100% full digital life freelance. Order pekerjaan masuk via telpon dan Whatsapp. Detail order dikirim via email atau GDrive. Pengerjaan sudah berlangsung di laptop dan smartphone – mulai dari editing, upload berita, hingga desain grafis.

Kata anak-anak publisher, Kerja Sarungan Penghasilan Karungan. Saya mah baru sampe : Kerja Pake Kolor, Masih Bisa Bayar Motor. Haha…

Ngomong-ngomong soal era digital, yah kita memang tidak bisa mengelaknya. Apalagi sampai menolak. Tentu kita masih ingat bagaimana awal-awal dulu, masa-masa ojek online mulai beroperasi. Gontok-gontokan melulu. Selalu saja muncul berita persekusi pengemudi ojek online saat lewat di wilayah ojek pangkalan. Besok-besoknya, giliran pangkalan ojek malah diserbu kawanan ojek online, sebagai bentuk tindakan solidaritas (baca=balas dendam).

Pemerintah sampai pusing tujuh keliling memikirkannya. Menjadi juru damai, memberi sanksi sampai mengeluarkan Peraturan Menteri.

Tapi kini?

Nggak ada lagi cerita itu. Malah semuanya kayak melebur. Banyak ojek pangkalan yang akhirnya ikut mendaftar jadi ojek online. Malah, bisa ambil kredit motor baru dari penghasilan narik ojek online.

Sementara ojek online pun nggak masalah ikut mangkal. Jadi kalo bahasa saya, saking meleburnya kedua entitas ojekers tersebut, malah sekarang lebih banyak pangkalan ojek online! Lihat saja di jalan, mangkalnya malah di mana-mana. Hihihi…

Artinya apa?

Perubahan tidak bisa kita lawan. Apalagi itu jika menyangkut teknologi. Tidak ada yang abadi, kecuali perubahan itu sendiri. “There is nothing permanent, except change” – kata Heraclitus, filsuf Yunani. Berubahlah sebelum kamu dipaksa berubah. “Change before you have to” – ujar Jack Welch.

Dan inilah masa di mana secara kasat mata, manusia-manusianya sudah beralih dari generasi baby boomers (1940) menjadi Generasi Y (1960), segera berganti menjadi Generasi X/Milenial (1980). Dan tantangan ke depan akan diisi oleh Generasi Z (2000).

Jika kita tidak bisa mempersiapkan diri dalam gerak cepat teknologi digital, maka kita akan hanya duduk manis menjadi penonton saja. Jangan lagi berfikir untuk melamar pekerjaan, di saat sudah banyak sekali jenis pekerjaan mandiri yang bisa di-apply sendiri. Mencipta, berkreasi dan inovasi agar tidak mati dalam persaingan.

Lalu, selain profesi ojek online, kira-kira apalagi ya profesi seru yang baru muncul di era digital ini?

1. Social Media Manager

Jika era baby boomers dan Generasi X, manager adalah mereka yang berkutat di meja nan lebar segi empat, memakai jas berdasi menghadap layar komputer dari balik kacamata minus dan setumpuk kertas berisi laporan dan analisa. Maka Social Media Manager justru dikuasai oleh anak-anak muda berpenampilan segar dan modis.

Cukup bermodal laptop dan duduk manis di sudut cafe, ia mulai melakukan aneka pekerjaan analitis terkait perkembangan sosial media dan memikirkan strategi ke depannya. Keren kan?

2. Digital Music Creator

Indonesia baru merasakan berkah internet 4G, di saat perkembangan teknologi di luar negeri sudah memikirkan loncatan teknologi 6G. Meski demikian, berkah 4G tadi begitu dinikmati sebagai masanya konten video. Bermunculanlah video-video orisinil nan kreatif. Bukan sebatas konten video yang ciamik, tetapi juga sound musiknya juga yang menyegerkan mood.

Ya, profesi digital music creator pun menjadi menarik untuk dilakoni. Karena, semakin banyak orang yang ingin mendapatkan musik secara eksklusif. Dan tidak semua orang bisa membuatnya.

3. Food Blogger

Yang ini menjadi pekerjaan terenak di era digital. Seru-seruan icip-icip makanan enak di tempat-tempat baru, dibayar pulak. Gimana nggak ngiri tuh?

Ya, disebut terenak karena memang pekerjaannya nggak jauh dari makanan enak, minuman lezat dan tempat nongkrong yang seru. Sebelum makan, foto-foto makanan dari berbagai sudut. Terus dicicipin, dinikmatin suasana tempatnya – terus ditulis. Upload di blog lalu dapet duit. Ah, benar-benar enak kan?

4. Mimin/Admin

Contoh twit dari admin @_TNIAU yang kerap disapa dengan Airman. (Foto: Twitter)
Pernah liat akun twitter milik instansi pemerintah macam BMKG dan TNI AU? Kocak bukan. Nah, itu adalah hasil kerjaan sang admin akun.

Kebayangkan kalo twit atau postingannya kaku dan hanya memberikan data-data angka saja. Alangkah membosankannya..

Nah, di tangan admin, twit menjadi lebih segar, menghibur, interaksi menjadi lebih hidup, follower bertambah dan masa depan sang admin pun cerah.

Itulah fungsi dan tugas seorang admin. Sebuah pekerjaan yang tidak ada di zaman dulu. Bertugas mengawal akun sosial media sebuah brand atau korporat. Menyiapkan informasi rutin, diolah menjadi lebih segar dan menjawab dengan santai.

Hanya bermodalkan smartphone dan kuota serta keahlian memilih diksi kata dan copy writing, sang admin pun mulai beraksi!

5. Digital Marketer


Ilustrasi bidang garapan seorang Digital Marketer
Untuk pekerjaan yang satu ini, juga baru di era digital ini. Bahkan, dari bidang inilah banyak terlahir jutawan-jutawan baru di usia belia karena kemampuan mereka menjual barang. Kebanyakan mereka menjual bukan barang milik sendiri. Mereka berkongsi dengan perusahaan-perusahaan yang menyediakan kesempatan untuk menjadi reseller atau malah affiliate marketer.

Dengan keahlian yang cukup mumpuni untuk mengolah data yang didapat dari sosial media dan search engine, tak heran jika dunia internet seakan tambang emas bagi mereka.

6. SEO specialist

Internet adalah search engine. Search engine adalah internet itu sendiri. Maka, menduduki peringkat pertama di pencarian search engine macam Google, Bing, Yandex dan lainnya adalah mata uang paling berharga di dunia online. Alhasil, muncullah apa yang dinamakan sebagai Seacrh Engine Optimization (SEO) yakni semacam ilmu teknis yang berkaitan dengan algoritma Google.

Di mana dengan memainkan beberapa parameter tertentu, maka kata kunci yang ingin kita jual, akan menempatkan produk kita di urutan pencarian pertama, atau yang dikenal sebagai SERP alias Search Engine Rank Position. Para SEO specialist ini tentu saja mendapatkan gaji yang sangat tinggi jika ia direkrut oleh perusahaan.

7. Youtuber



Profesi satu ini, sekarang lagi naik daun. Banyak yang mencoba peruntungan dengan terjun membuat channel dan menerbitkan konten kreatif di dalamnya. Sasarannya adalah untuk mendapatkan subscriber dan viewers yang banyak biar dapat meningkatkan pendapatan mereka via Youtube.

Semua setara di media daring berbagi video ini. Nggak peduli apakah kamu balita atau artis, semua berkesempatan untuk menjadi artis Youtube. Ada yang sudah berusaha mati-matian membuat konten yang bagus. Sudah mengeluarkan modal jutaan rupiah. Etapi, viewers-nya malah kalah dengan video bocah yang lagi melakukan amboksing coklat stik yang dibeli di warung sebelah. Gimana nggak nyesek tuh?

8. E Sport Athlete


Para atlet Esport yang berlaga di Asian Games 2018 untuk game Arena of Valor (Foto: Bola.com)
Nah, yang ini super-super baru! Bahkan saya sendiri sempat melongok, pada gelaran Asian Games 2018 silam cabang olahraga E Sport dipertandingkan! Setidaknya ada enam gim yang dimainkan dalam perhelatan olahraga terbesar di Asia itu, yakni Arena of Valor (AOV), Clash Royale, League of Legends, Star Scraft II, Heartstone, dan PES 2018

Wah, kalo sudah muncul di arena olahraga tingkat dunia, berarti ini mah serius banget.

Meskipun saat itu masih dipertandingkan sebatas eksibisi saja, namun cukup membuka banyak mata, bahwa bermain game tidak selamanya hasilnya negatif. Asal kamu menseriusinya, kamu akan bisa!

9. Web Programmer

Meskipun arus dunia digital dan online sudah mengerucut menjadi lebih ringan dan mobile namun keberadaan sebuah website tidak dapat dinafikkan. Ia adalah landingpage paling sempurna dari setiap aktivitas online. Di sanalah segala bentuk database diinapkan.

Sehingga profesi web programmer/web developer tidak dapat dipandang sebelah mata. Seiring terus diperbaruinya aneka macam CMS (Content Management System), plugin, widget dan semacamnya, maka web programmer adalah sosok istimewa karena ia akan terus belajar sepanjang masa, tak bosan mengoprek kode-kode HTML. Wajar jika pekerjaan ini termasuk jenis pekerjaan yang dibayar mahal di tanah air!

10. Data scientist


Ilustrasi Big Data
Nah, kalo profesi yang satu ini, muncul sebagai akibat konsekuensi logis dari era big data. Yakni, begitu banyaknya data dan informasi yang kita terima, namun tidak semuanya datang dalam paket-paket yang tersusun rapi. Dan tidak semuanya kita butuhkan. Maka kehadiran seorang data scientist adalah untuk mendapatkan, memilah, dan memanfaatkan sejumlah data tertentu yang dibutuhkan.

Seperti adagium di internet. People don’t need data, they need answer.

Tentu saja, selain sepuluh pekerjaan di atas yang terkait dengan dunia digital, masih banyak pekerjaan lainnya yang ada. Namun, kamu bisa memulai dari yang dekat dengan kamu dulu. Pilih salah satu dahulu. Pelajari pelan-pelan. Fokus dan jadilah ahli di dalamnya. Era digital memungkinkan kita untuk mendapatkan ilmu dan pengetahuan dengan cukup duduk di depan layar laptop ataupun smartphone.

Tabik..

Puas lihat meme di atas? Bagus! Berarti kamu telah berhibur diri di atas penderitaan saya. Di-bully itu pedih, Jendral! Harapan tanpa kepast...

Puas lihat meme di atas? Bagus!
Berarti kamu telah berhibur diri di atas penderitaan saya.
Di-bully itu pedih, Jendral!
Harapan tanpa kepastian, itu jauh lebih pedih Mblo..


Begitulah, perih-perih manis saat membaca komen di salah satu grup yang ada di jejaring Facebook ini. Profesi blogger masih saja asing di telinga sebagian orang dibanding Facebooker, lebih-lebih lagi Youtuber. Padahal kan, lebih tua blogger dari keduanya. Dan anehnya, bukannya mencari apa dan siapa sebenarnya blogger itu, mereka lebih memilih mencipta mindset sendiri : bahwa blogger adalah orang yang pasti melek IT. Paham teknologi terkini.

Jadi teringat dulu, saat masih berprofesi sebagai seorang ilustrator/infografik sepuluh tahun silam, bejibun stereotype yang langsung melekat ke saya. Kertas print ngejam – panggil saya, line telpon nggak nyala – saya disuruh maju, ada presentasi klien dari Singapura, berbahasa Inggris tapi dengan aksen Tamil – saya juga yang disuruh ikut dan seterusnya.

Pun, saat saya full time menjadi seorang freelance, dan tak terikat ke kantor manapun, stereotype itu masih melekat. Tanya isi toner printer bela-belain telpon saya, tanya cetak poster ukuran A0 yang cepat jadi juga ke saya. Huff.. ambil positifnya saja, berarti mereka menganggap saya multi telenta – bisa apa saja. Bukankah persangkaan dekat dengan kenyataan? Semoga jadi doa pasif untuk saya.

Menjadi blogger tentu bukanlah hal yang eksklusif dan dimiliki oleh satu orang atau entitas tertentu saja. Sebagian besar blogger adalah penyandang status profesional yang lain. Apakah ia guru, dosen, dokter, fotografer hingga jurnalis. Mereka memanfaatkan platform weblog untuk menulis jurnal, catatan pribadi atau mengikat pengalaman pengetahuan dari profesi mereka.

Sementara, ada juga sebagian blogger yang memilih menjadi freelance, menggabungkannya dengan profesi lepas mereka. Menjadi influencer, content writing, buzzer, product reviewer atau publisher.

Meski demikian, tak banyak yang menjadikan blogger sebagai pekerjaan utama. Maka ketika ada yang nekat memilihnya sebagai lahan untuk menyambung hidup, malah banyak yang kasih nasehat. “Yang sabar ya Bro..”

Haha..

Padahal, jika mereka tahu perjuangan para blogger di sepertiga malam, demi mendapatkan koneksi bonus internet yang biasanya melimpah. Tentu mereka akan angkat topi. Lagian juga, menjadi seorang narablog tidak sekaku saat berada di dalam kubikel. Mereka bebas bekerja dari mana saja dan kapan saja. Asalkan tetap sesuai dengan timeline pekerjaan dan koneksi wifi tentu saja.

Ya, blogger menghidupi diri bahkan keluarganya, dari jerih payahnya sendiri. Berkutat dengan ide, bergumul dengan deadline. Wajar jika kemudian hantu terbesar yang menjadi musuh para blogger yakni writer’s block. Alias buntu ide, stuck, nggak mampu mikir apa-apa lagi.

Di saat inilah, seorang blogger butuh moodbooster.



Rahasia Bugar Nenek Moyang Kita ada di Rempah-Rempah

Kok nyambung blas ke nenek moyang Pakde?

Lha iya, tadi keputus di bagian mood boster kan? Sementara mood sangat bergantung dengan kondisi fisik kita. Sementara fisik kepada aktivitas yang kita lakukan, dan nutrisi apa yang masuk ke dalam tubuh kita.

Nah, nggak usah jauh-jauh nyari obatnya. Soalnya, Ibu Pertiwi di tanah tumpah darah bernama Indonesia kita ini, telah memberikan aneka rempah-rempah herbal yang sangat berkhasiat. Semuanya alami dan terjaga berkat kearifan lokal para nenek moyang kita ini.

Pernah nggak membayangkan, bagaimana tangguhnya fisik dan raga nenek moyang kita dulu. Bekerja hampir 12 jam di bawah terik matahari seharian penuh namun jarang sakit. Pekerjaannya pun bukan pekerjaan nyantai. Mencangkul tanah yang keras, membajak sawah, menuruni lereng bukit, masuk-keluar hutan, mengarungi lautan dan lainnya.

Rupanya mereka senantiasa dekat dengan alam. Mereka punya resep rahasia yang berasal dari rempah-rempah. Rempah-rempah di Indonesia sangat kaya. Baik dari jumlah maupun variannya. Dan dengan kayanya alam inilah, Indonesia menjadi surga bagi perkembangan ilmu herba. Yakni suatu ilmu yang mempelajari tentang pengobatan dengan mengandalkan khasiat tanam-tanaman.

Kita sekarang, meski tidak seberat pekerjaan mereka dahulu – seiring dengan perkembangan teknologi, pekerjaan sudah sangat terbantu dengan adanya aneka gawai nan canggih. Namun ancaman terkait dengan kesehatan tetaplah ada.

Seperti stres tekanan dari tempat kerja, polusi udara, makan makanan tak sehat, pola hidup yang tak seimbang, jam kerja overload, dan freelance seperti saya, dipastikan jam kerja yang tidak teratur, keseringan ngalong dan yang pastinya jadi kurang gerak.

Tanpa asupan nutrisi yang baik dan kaya khasiat, tinggal menunggu hitungan hari saja badan dan jiwa saya akan tepar.

Capek, pegal-pegal, masuk angin, tidak selera makan menjadi sinyal dari tubuh, ada yang tidak beres di bagian dalam. Dan bisa jadi menjadi pintu bagi penyakit lain jika tidak segera dicegah. Bukankah pepatah bijak yang telah menjaga kita selama ini, bahwa lebih baik mencegah daripada mengobati?

Seperti kata teman, gaya hidup sehat bisa jadi mahal – dalam artian perlu modal. Beli sepatu untuk jogging, bayar sewa lapangan futsal, beli raket badminton, dan lainnya. Tapi, berobat ketika sudah sakit malah jauh lebih mahal…

Makanya, daripada nyesel di kemudian hari, lebih baik kembali ke alam dan menanti kebaikan alami dari surga herbal dunia yang bernama Indonesia ini.

Oya, ngomong-ngomong tentang tanaman herbal, sedikitnya ada tiga herbal andalan yang biasanya ada di sekitar rumah dan dipelihara oleh ibu kita secara turun-temurun, adalah tanaman Jahe, Temu Lawak dan Lidah Buaya.

Jahe

Jahe, berkhasiat untuk menghangatkan badan, mengusir masuk angin, pegal-pegal dan sekaligus meningkatkan daya tahan tubuh. Dalam tinjauan gizi, Jahe memiliki vitamin, mineral, dan asam amino yang dapat memulihkan dan memperbaiki sirkulasi darah serta memperlancar sistem pernafasan.


Sebagai minuman, Jahe biasanya disajikan sebagai wedang jahe. Hangatnya itu loh, nyresep banget.

Cocok banget untuk saya, yang sering offside kalo lagi kerja ngalong. Maksud hati cuma mau nyicil deadline, nggak taunya bablas sampe menjelang Subuh. Yah, apa mau dikata. Tuntutan pekerjaan Mas.. Harus dilakoni. Perut kembung gegara kena angin malam yang menyelinap masuk melalui lubang angin, bisa cepat-cepat diusir dengan wedang jahe panas ini.

Untung saja, sudah ada Sari Jahe Herbadrink dalam bentuk sachet, jadi nggak usah khawatir lagi, jika tengah dalu harus cari-cari jahe apalagi sampe gedor-gedor pintu tetangga, “Bu Joko-Bu Joko, Bu Joko punya jahe..?”

Cukup masak air panas sebentar, tuangkan ke dalam gelas lalu disiram air panas, jadi deh. Hangatnya jahe akan segera menjalar hingga ke setiap relung otot, menyegarkan otak dan penghalang menulis pun akan rontok dengan sendirinya. “Lanjut Pakekooo..” 😀

Temulawak

Pertama kali mengenal fungsi temulawak bernama latin Curcuma Xanthorhiza Roxb ini ada di susu formula untuk anak saya, sebagai penambah nafsu makan. Di luar itu, banyak sekali manfaat temu lawak ini. Apalagi dibuat sebagai seduhan hangat atau malah sebagai sari temulawak dingin.



Nyatanya, tanaman khas tanah air yang sudah dikenal sejak permulaan abad ke-16 ini, mempunyai banyak sekali fungsinya. Dan saya baru tahu jika salah satu manfaat penting temulawak ini adalah untuk mengobat penyakit liver (sakit kuning). Waoo sekali ya..

Selain sebagai penambah nafsu makan dan obat liver, ternyata khasiat Temulawak lainnya adalah penghilang nyeri sendi, hingga penurun kolestrol. Wajar jika kemudian, temulawak banyak dijadikan campuran dalam berbagai jenis jamu.

Nah, sejak jawa kuno, meski mempunyai khasiat yang sangat hebat untuk tubuh, Temulawak juga umum disajikan sebagai minuman segar pelepas dahaga. Apalagi jika ditambah dengan batu es. Uewalah, mantap e rek!

Kamu juga bisa merakan segarnya herba ini dalam varian Sari Temulawak Herbadrink yang tersedia dalam bentuk sachet. Praktis, tinggal disobek tuang ke cangkir, siram dengan air dan tambahkan batu es, sedaaap..

Lidah Buaya

Selanjutnya adalah lidah buaya. Begitu denger lidah buaya, pasti langsung kepikir buat keramas..

O, tentu saja tidak, lidah buaya bukan hanya untuk keramas saja. Banyak sekali khasiat lidah buaya apalagi disajikan sebagai menu minuman.


Kandungan di dalam lidah buaya, terdiri atas 200 komponen aktif, termasuk vitamin A, B1, B2, B3 (niacin), B6, B9 (asam folat), C dan E. Lidah buaya juga termasuk tanaman yang mempunyai kandungan langka, yakni : vitamin B12 yakni vitamin yang membantu fungsi otak dan sistem syaraf.

Tak hanya tinggi kandungan vitamin, Lidah Buaya juga kaya akan mineral. Di dalamnya terkandung kalsium, magnesium, zinc, kromium, selenium, sodium, zat besi dan potassium. Adapula asam amino dan asam lemak yang membantu mengatasi gangguan pencernaan.

Lidah buaya juga termasuk golongan adaptogen, ykani membantu daya tahan tubuh untuk mengurangi sensitivitas sel terhadap stres. Ia juga dipercaya dapat menurunkan kadar kolesterol dalam darah dan membantu menurunkan berat badan.

Selain itu dapat pula digunakan untuk mengatasi gangguan pencernaan, refluks asam lambung, hingga meredakan gejala iritasi usus.

Kabar baiknya, untuk urusan Lidah buaya juga, kamu bisa pilih yang praktis, bisa disajikan secara hangat ataupun dingin. Perkembangan teknologi memungkinkan untuk menghadirkan aneka ramuan rempah-rempah tadi menjadi lebih mudah dinikmati, saat itu juga dengan khasiat yang lebih terjaga mutunya.

Rasanya yang nikmat, dan pas dinikmati saat hangat-hangat kuku atau cari yang seger-seger untuk moodbooster juga bisa. Rasanya seluruh khasiat yang terkandung di dalamnya terserap utuh, mencecap ke dalam setiap pembuluh darah dan relung otot.


Saat mentok untuk ngembangin ide nulis, saatnya Herbadrink #Kembali Alami. “Karena Saya Blogger, Saya Butuh yang Seger-Seger!”. (*)