Thursday, June 4, 2015

Vegetasi Perintis

Ada yang tahu tentang Vegetasi Perintis? Ya, istilah ini untuk menyebut tanaman sejenis lumut yang hidup di atas batu yang keras. Mengapa disebut perintis? Karena, di saat batu hanyalah seonggok benda mati, padat nan keras, dan tidak ada mahluk hidup pun yang sudi tinggal di sana, maka lumut pun tumbuh.
 
Aktivitas metabolisme lumut, yang mengeluarkan aneka zat kimiawi kemudian melunakkan batu dan akhirnya terberai menjadi serpihan. Serpihan batu yang telah melunak tadi mewujud menjadi tanah atau material asal dari batu tersebut.
 
 
Dari situ, mulailah datang mikroorganisme lain yang mencari makan berupa zat hara. Seperti serangga-serangga kecil, tanaman halus yang biji atau sporanya terbawa angin.
 
Semakin lama, semakin banyak bongkahan batu yang melunak akibat aktivitas lumut dan semakin banyak pula mikroorganisme lain yang datang dan tinggal di lokasi tersebut.
 
Gotong royong para pendatang akhirnya menciptakan ekosistem yang subur dan terjadi simbiosisme mutualisme. Ditambah dengan seleksi alam, mereka yang mampu bertahan bisa tetap hidup dan terus tumbuh. Maka menjulanglah pohon-pohon besar lalu berdatanglah hewan-hewan besar macam burung, kambing dan sebagainya. Maka terciptalah hutan.
 
Begitulah, Tuhan telah menciptakan vegetasi perintis sebagai mekanisme yang baik lagi sempurna dalam menciptakan dan menjaga keseimbangan alam.
 
Vegetasi Perintis di Era Modern
Hal serupa, dapat pula ditemui di kehidupan kini hari. Vegetasi perintis bisa berupa masyarakat lokal yang membentuk perkampungan. Atau pedagang kaki lima yang memanfaatkan tempat kosong di depan terminal, lalu kemudian berderet sepanjang jalan membentuk rantai pedagang kaki lima. Atau para pendatang pengarus urbanisasi, yang tak berkesempatan memiliki tanah di tengah kota. Mereka akhirnya memilih pinggiran. Bukan pinggiran kota yang ideal, tapi pinggiran sungai.
 
Maka sekali lagi, rantai tempat tinggal pinggiran ini  akhirnya membentuk rantai pemukiman kumuh.
Lalu di mana fungsi vegetasi perintisnya?
 
Pemukiman warga lokal telah menciptakan ekosistem yang baik. Banyak aspek ekonomi yang tercipta dari hasil interaksi antar warga. Komponen-komponen kapital  berdatangan, maka arus bisnis itu pun memusar menjadi besar.
 
Lalu, harga tanah pun merangkak naik. Developer datang membujuk, angka deal tersepakati. Maka penduduk lokal pun pindah, berganti dengan lusinan rumah baru bertajuk perumahan, dengan daya jual : lokasi strategis.
 
Jadi, vegetasi perintis memegang peranan penting dalam menciptakan  'koloni' dan komunitas.
Lalu, setelah sebuah ekosistem besar telah tercipta, ke manakah lumut yang memegang peranan penting tadi? Di hutan, mereka tetap beaktivitas seperti biasa. Mereka melanjutkan hidup sambil melontarkan spora ke udara. Melayang jauh untuk menjelajah tempat baru. Di tempat lama mereka tetap dihormati.
 
Sedangkan vegetasi perintis di era modern, setelah komunitas tercipta mereka harus rela 'diusir', meninggalkan tempat. Baik dibayar maupun terpaksa. Pedagang kaki lima harus rela diusir dan diganti dengan pendatang baru yang mampu membayar lapak-lapak dengan harga tinggi. Episode selanjutnya lapak-lapak ekonomis harus pula tersingkir dengan ruko-ruko baru. Yang harganya jelas-jelas melangit! Bahkan, saking takjubnya dengan benderol harga, tak ada suara saat akan menjerit.
Di pinggir sungai, di bantaran kali nasib pun sama. Para pemukim liar pun harus rela diusir.

Bagaimanapun, itu memang ilegal dan bukan tanah perorangan. Ditambah dengan alasan, kehadiran mereka, mengurangi keindahan kota. Karena sebentar lagi di sana akan dibangin semacam taman-taman indah dan lokasi bermain. Lebih enak dipandang dan tentu saja menyejukkan, dari balik kaca apartemen yang tak jauh berdiri dari situ. (*)

0 comments:

Post a Comment