Monday, August 8, 2016

Palestina Dihapus dari Google Map, Kita Bisa Apa?



Beberapa hari ini, di laman sosial media banyak beredar berita mengenai hilangnya peta Palestina di Google Map, dan digantikan oleh peta Israel. Seperti biasa, netizen pun bereaksi. Kali ini reaksi yang dirasa paling kuat adalah dengan dibuatnya petisi online di laman Change.org.

Petisi tersebut berjudul Google: Put Palestine On Your Maps!' dan saat tulisan ini dibuat, sudah ada  143.487 pendukung yang menandatangani petisi tersebut dari 150.000 penandatangan sasaran.



Tujuannya jelas, 'mensomasi' Google agar mengembalikan peta Palestina dalam layanan Google Map-nya.

Seperti dikutip dari detikinet, saat layanan peta Google Map tersebut di-search menggunakan kata 'Palestina', maka yang muncul di peta digital tersebut hanya kota-kota di negara yang beribukota di Ramallah itu.

Padahal pada keterangan di Google Maps disebutkan bahwa Palestina merupakan sebuah negara di Timur Tengah yang telah diakui oleh 136 negara anggota PBB dan sejak tahun 2012. Ada sesuatu yang aneh bukan?

Maka berita ini pun menyebar secara luas termasuk dengan munculnya inisiatif petisi online di atas.

Kita Bisa Apa?
Itulah pertanyaan pertama yang menyeruak dalam benak saya, saat seorang teman mengirimkan ajakan menandatangani petisi online tersebut melalui Facebook Messanger.


Meski saya tahu, hal tersebut penting. Namun, ajakan tersebut tidak langsung saya iyakan. Karena, menghadapi Google ini : Kita bisa apa?

Apakah cukup dengan menandatangani petisi saja? Apakah tidak ada yang lebih 'heroik' untuk menekan Google? Misal melakukan boikot dari layanan dan produk Google? Kan keren tuh, seandainya kita kompak nggak make layanan Google itu seminggu saja, bisa jatuh tuh trafiknya. Jumlah kita kan delapan puluh jutaan pengguna aktif internet.   
Grafis yang menjelaskan perbedaan kekuatan dan perlakuan terhadap petisi di AS dan Indonesia

Tapi ya gitu. Kita mah cuma bisa ngomong doang. Tereak-tereak gak karuan. Palingan juga jago buat trending topic.

Coba dibaca komen-komen di bawah berita-berita tersebut. Banyak yang cuma bernada keprihatinan. Wajar jika kemudian, ada akun klonengan yang dengan senang hati mentertawakan komen-komen tersebut. Bahwa kita, umat muslim hanya bisa ngomong, melaknat, mencerca di media sosial. Tanpa berbuat nyata, apalagi aksi yang seimbang.

Di situ kadang saya merasa sedih. Dengan kecanggihan teknologi yang mereka miliki, Google secara de facto berhasil menguasai hampir semua lini kehidupan kita. Mulai dari mesin pencari, lalu layanan email, google drive, google map hingga ke Youtube. Belum lagi jika kita bicara tentang Android yang tersemat di dalam smartphone kita.

Semua data pribadi telah kita titipkan kepada Google, Facebook dkk. Bahkan, tanpa kita sadari, rute perjalanan ke kantor kita pun direkam dengan baik oleh Google, saat kita mengaktifkan GPS dan Google Map.

Ditambah pula, dari hari ke hari tingkat ketergantungan kita kepada Google dan Facebook pun semakin tinggi. Apalagi, semakin banyak orang muda yang mencari makan, mengais dolar dan rupiah melalui kanal media sosial raksasa internet tersebut.


Lantas kita bisa apa? 
Sudahlah, anggap saja ini suara hati dari orang yang pesimis. Orang yang hanya bisa berandai-andai. Andai muslim sudah bisa membuat search engine sendiri. Punya layanan peta digital sendiri. Punya kantor berita sendiri. Punya layanan pesan instan sendiri. Punya operating system sendiri yang bisa disematkan di komputer, laptop hingga ke smartphone. 

Ya udah gitu saja. Ini hanya pandangan pribadi saja. Tidak mewakili siapa pun. Salam (*) 

0 comments:

Post a Comment