“Saya Blogger, Saya Butuh yang Seger-Seger!”

Puas lihat meme di atas? Bagus!
Berarti kamu telah berhibur diri di atas penderitaan saya.
Di-bully itu pedih, Jendral!
Harapan tanpa kepastian, itu jauh lebih pedih Mblo..


Begitulah, perih-perih manis saat membaca komen di salah satu grup yang ada di jejaring Facebook ini. Profesi blogger masih saja asing di telinga sebagian orang dibanding Facebooker, lebih-lebih lagi Youtuber. Padahal kan, lebih tua blogger dari keduanya. Dan anehnya, bukannya mencari apa dan siapa sebenarnya blogger itu, mereka lebih memilih mencipta mindset sendiri : bahwa blogger adalah orang yang pasti melek IT. Paham teknologi terkini.

Jadi teringat dulu, saat masih berprofesi sebagai seorang ilustrator/infografik sepuluh tahun silam, bejibun stereotype yang langsung melekat ke saya. Kertas print ngejam – panggil saya, line telpon nggak nyala – saya disuruh maju, ada presentasi klien dari Singapura, berbahasa Inggris tapi dengan aksen Tamil – saya juga yang disuruh ikut dan seterusnya.

Pun, saat saya full time menjadi seorang freelance, dan tak terikat ke kantor manapun, stereotype itu masih melekat. Tanya isi toner printer bela-belain telpon saya, tanya cetak poster ukuran A0 yang cepat jadi juga ke saya. Huff.. ambil positifnya saja, berarti mereka menganggap saya multi telenta – bisa apa saja. Bukankah persangkaan dekat dengan kenyataan? Semoga jadi doa pasif untuk saya.

Menjadi blogger tentu bukanlah hal yang eksklusif dan dimiliki oleh satu orang atau entitas tertentu saja. Sebagian besar blogger adalah penyandang status profesional yang lain. Apakah ia guru, dosen, dokter, fotografer hingga jurnalis. Mereka memanfaatkan platform weblog untuk menulis jurnal, catatan pribadi atau mengikat pengalaman pengetahuan dari profesi mereka.

Sementara, ada juga sebagian blogger yang memilih menjadi freelance, menggabungkannya dengan profesi lepas mereka. Menjadi influencer, content writing, buzzer, product reviewer atau publisher.

Meski demikian, tak banyak yang menjadikan blogger sebagai pekerjaan utama. Maka ketika ada yang nekat memilihnya sebagai lahan untuk menyambung hidup, malah banyak yang kasih nasehat. “Yang sabar ya Bro..”

Haha..

Padahal, jika mereka tahu perjuangan para blogger di sepertiga malam, demi mendapatkan koneksi bonus internet yang biasanya melimpah. Tentu mereka akan angkat topi. Lagian juga, menjadi seorang narablog tidak sekaku saat berada di dalam kubikel. Mereka bebas bekerja dari mana saja dan kapan saja. Asalkan tetap sesuai dengan timeline pekerjaan dan koneksi wifi tentu saja.

Ya, blogger menghidupi diri bahkan keluarganya, dari jerih payahnya sendiri. Berkutat dengan ide, bergumul dengan deadline. Wajar jika kemudian hantu terbesar yang menjadi musuh para blogger yakni writer’s block. Alias buntu ide, stuck, nggak mampu mikir apa-apa lagi.

Di saat inilah, seorang blogger butuh moodbooster.



Rahasia Bugar Nenek Moyang Kita ada di Rempah-Rempah

Kok nyambung blas ke nenek moyang Pakde?

Lha iya, tadi keputus di bagian mood boster kan? Sementara mood sangat bergantung dengan kondisi fisik kita. Sementara fisik kepada aktivitas yang kita lakukan, dan nutrisi apa yang masuk ke dalam tubuh kita.

Nah, nggak usah jauh-jauh nyari obatnya. Soalnya, Ibu Pertiwi di tanah tumpah darah bernama Indonesia kita ini, telah memberikan aneka rempah-rempah herbal yang sangat berkhasiat. Semuanya alami dan terjaga berkat kearifan lokal para nenek moyang kita ini.

Pernah nggak membayangkan, bagaimana tangguhnya fisik dan raga nenek moyang kita dulu. Bekerja hampir 12 jam di bawah terik matahari seharian penuh namun jarang sakit. Pekerjaannya pun bukan pekerjaan nyantai. Mencangkul tanah yang keras, membajak sawah, menuruni lereng bukit, masuk-keluar hutan, mengarungi lautan dan lainnya.

Rupanya mereka senantiasa dekat dengan alam. Mereka punya resep rahasia yang berasal dari rempah-rempah. Rempah-rempah di Indonesia sangat kaya. Baik dari jumlah maupun variannya. Dan dengan kayanya alam inilah, Indonesia menjadi surga bagi perkembangan ilmu herba. Yakni suatu ilmu yang mempelajari tentang pengobatan dengan mengandalkan khasiat tanam-tanaman.

Kita sekarang, meski tidak seberat pekerjaan mereka dahulu – seiring dengan perkembangan teknologi, pekerjaan sudah sangat terbantu dengan adanya aneka gawai nan canggih. Namun ancaman terkait dengan kesehatan tetaplah ada.

Seperti stres tekanan dari tempat kerja, polusi udara, makan makanan tak sehat, pola hidup yang tak seimbang, jam kerja overload, dan freelance seperti saya, dipastikan jam kerja yang tidak teratur, keseringan ngalong dan yang pastinya jadi kurang gerak.

Tanpa asupan nutrisi yang baik dan kaya khasiat, tinggal menunggu hitungan hari saja badan dan jiwa saya akan tepar.

Capek, pegal-pegal, masuk angin, tidak selera makan menjadi sinyal dari tubuh, ada yang tidak beres di bagian dalam. Dan bisa jadi menjadi pintu bagi penyakit lain jika tidak segera dicegah. Bukankah pepatah bijak yang telah menjaga kita selama ini, bahwa lebih baik mencegah daripada mengobati?

Seperti kata teman, gaya hidup sehat bisa jadi mahal – dalam artian perlu modal. Beli sepatu untuk jogging, bayar sewa lapangan futsal, beli raket badminton, dan lainnya. Tapi, berobat ketika sudah sakit malah jauh lebih mahal…

Makanya, daripada nyesel di kemudian hari, lebih baik kembali ke alam dan menanti kebaikan alami dari surga herbal dunia yang bernama Indonesia ini.

Oya, ngomong-ngomong tentang tanaman herbal, sedikitnya ada tiga herbal andalan yang biasanya ada di sekitar rumah dan dipelihara oleh ibu kita secara turun-temurun, adalah tanaman Jahe, Temu Lawak dan Lidah Buaya.

Jahe

Jahe, berkhasiat untuk menghangatkan badan, mengusir masuk angin, pegal-pegal dan sekaligus meningkatkan daya tahan tubuh. Dalam tinjauan gizi, Jahe memiliki vitamin, mineral, dan asam amino yang dapat memulihkan dan memperbaiki sirkulasi darah serta memperlancar sistem pernafasan.


Sebagai minuman, Jahe biasanya disajikan sebagai wedang jahe. Hangatnya itu loh, nyresep banget.

Cocok banget untuk saya, yang sering offside kalo lagi kerja ngalong. Maksud hati cuma mau nyicil deadline, nggak taunya bablas sampe menjelang Subuh. Yah, apa mau dikata. Tuntutan pekerjaan Mas.. Harus dilakoni. Perut kembung gegara kena angin malam yang menyelinap masuk melalui lubang angin, bisa cepat-cepat diusir dengan wedang jahe panas ini.

Untung saja, sudah ada Sari Jahe Herbadrink dalam bentuk sachet, jadi nggak usah khawatir lagi, jika tengah dalu harus cari-cari jahe apalagi sampe gedor-gedor pintu tetangga, “Bu Joko-Bu Joko, Bu Joko punya jahe..?”

Cukup masak air panas sebentar, tuangkan ke dalam gelas lalu disiram air panas, jadi deh. Hangatnya jahe akan segera menjalar hingga ke setiap relung otot, menyegarkan otak dan penghalang menulis pun akan rontok dengan sendirinya. “Lanjut Pakekooo..” 😀

Temulawak

Pertama kali mengenal fungsi temulawak bernama latin Curcuma Xanthorhiza Roxb ini ada di susu formula untuk anak saya, sebagai penambah nafsu makan. Di luar itu, banyak sekali manfaat temu lawak ini. Apalagi dibuat sebagai seduhan hangat atau malah sebagai sari temulawak dingin.



Nyatanya, tanaman khas tanah air yang sudah dikenal sejak permulaan abad ke-16 ini, mempunyai banyak sekali fungsinya. Dan saya baru tahu jika salah satu manfaat penting temulawak ini adalah untuk mengobat penyakit liver (sakit kuning). Waoo sekali ya..

Selain sebagai penambah nafsu makan dan obat liver, ternyata khasiat Temulawak lainnya adalah penghilang nyeri sendi, hingga penurun kolestrol. Wajar jika kemudian, temulawak banyak dijadikan campuran dalam berbagai jenis jamu.

Nah, sejak jawa kuno, meski mempunyai khasiat yang sangat hebat untuk tubuh, Temulawak juga umum disajikan sebagai minuman segar pelepas dahaga. Apalagi jika ditambah dengan batu es. Uewalah, mantap e rek!

Kamu juga bisa merakan segarnya herba ini dalam varian Sari Temulawak Herbadrink yang tersedia dalam bentuk sachet. Praktis, tinggal disobek tuang ke cangkir, siram dengan air dan tambahkan batu es, sedaaap..

Lidah Buaya

Selanjutnya adalah lidah buaya. Begitu denger lidah buaya, pasti langsung kepikir buat keramas..

O, tentu saja tidak, lidah buaya bukan hanya untuk keramas saja. Banyak sekali khasiat lidah buaya apalagi disajikan sebagai menu minuman.


Kandungan di dalam lidah buaya, terdiri atas 200 komponen aktif, termasuk vitamin A, B1, B2, B3 (niacin), B6, B9 (asam folat), C dan E. Lidah buaya juga termasuk tanaman yang mempunyai kandungan langka, yakni : vitamin B12 yakni vitamin yang membantu fungsi otak dan sistem syaraf.

Tak hanya tinggi kandungan vitamin, Lidah Buaya juga kaya akan mineral. Di dalamnya terkandung kalsium, magnesium, zinc, kromium, selenium, sodium, zat besi dan potassium. Adapula asam amino dan asam lemak yang membantu mengatasi gangguan pencernaan.

Lidah buaya juga termasuk golongan adaptogen, ykani membantu daya tahan tubuh untuk mengurangi sensitivitas sel terhadap stres. Ia juga dipercaya dapat menurunkan kadar kolesterol dalam darah dan membantu menurunkan berat badan.

Selain itu dapat pula digunakan untuk mengatasi gangguan pencernaan, refluks asam lambung, hingga meredakan gejala iritasi usus.

Kabar baiknya, untuk urusan Lidah buaya juga, kamu bisa pilih yang praktis, bisa disajikan secara hangat ataupun dingin. Perkembangan teknologi memungkinkan untuk menghadirkan aneka ramuan rempah-rempah tadi menjadi lebih mudah dinikmati, saat itu juga dengan khasiat yang lebih terjaga mutunya.

Rasanya yang nikmat, dan pas dinikmati saat hangat-hangat kuku atau cari yang seger-seger untuk moodbooster juga bisa. Rasanya seluruh khasiat yang terkandung di dalamnya terserap utuh, mencecap ke dalam setiap pembuluh darah dan relung otot.


Saat mentok untuk ngembangin ide nulis, saatnya Herbadrink #Kembali Alami. “Karena Saya Blogger, Saya Butuh yang Seger-Seger!”. (*)

Komentar

Postingan Populer