Monday, May 25, 2015

Ketika Freelance Merasa Rendah Diri

Minder, merasa rendah diri atau merasa tidak dihargai. Menjadi penyakit mental yang sering menghinggapi seorang freelancer atau pekerja lepas.
 
Ketika karya tidak dihargai atau malah dilecehkan, maka sudah dipastikan, mood seseorang menjadi amburadul. Apalagi bagi seorang freelancer yang masih mengandalkan kemampuan sendiri dalam bekerja.
 
Hinalah pekerjaannya, maka engkau akan lihat mereka akan langsung merasa lesu darah. Saya pernah ketemu klien yang bilang, "Kalau cuma gambar seperti itu, aku pun bisa". Asli, nyesek rasa dada ini. Ingin saya kontani, tapi seperti biasa. Saya hanya diam, tersenyum sopan demi menjaga kondisi.  Lalu mundur teratur setelah menghabiskan kopi seduhan air dingin. Sepet.
 
Saat itu saya sudah tak minat lagi beroleh pekerjaan darinya. Ingin cepat -cepat keluar dari ruangannya. Dan syukur, saya tidak jadi mendapat pekerjaan lukis pengantin untuk gedung pernikahannya. Daripada terus-terusan teringat ucapannya lalu makan ati? Terus bunuh diri?
 
Lain waktu, ada juga saya merasa minder. Siapalah aku ini. Yang hanya seorang freelance biasa. Bisa apa saya mengatur-ngatur klien. Alhasil bulan itu, aku benar-benar tidak mengerjakan satu tugas pun dari klien yang mempercayakan membuat majalah untuk kantornya.
 
Seperti lagu Cita Citata, "Aku mah apa atuh.." "Aku ini apanya kamu..." Cuma seorang freelance saja. Apa wewenang saya untuk menyuruh dan memerintah.

Ah sudahlah, ini cuma uneg-uneg saja. Hanya sebentar bad mood-nya, sehembusan angin.
 
Besok sudah baik lagi. All is well..
Palembang 25/5/2015

0 comments:

Post a Comment