Saturday, March 19, 2016

Uttaran Episode Klimaks

 
Pemain Uttaran
Tiga pemain utama Uttaran Ichcha (Tina Dutta), Veer (Nandish Sandhu) dan Tapasya (Rashami Desai)


Uttaran episode demi episode terus menunjukkan twist cerita yang menegangkan. Seringkali, ceritanya yang dibangun, 'menyiksa' seorang Ichcha (diperankan oleh Tina Dutta) bersama sang ibu Damini (Vaishali Thakkar) yang lama mengabdi sebagai asisten rumah tangga di rumah Tuan Takur. Ichcha yang sejak kecil tinggal bersama keluarga itu dan tumbuh besar bersama anak kesayangan di rumah itu - Tapasya (Rashmi Desai), telah dianggap oleh Tuan Jogi Takur (Ayub Khan) sebagai anak sendiri.

Sayangnya, benih-benih kedengkian tumbuh seiring waktu dan berurat berakar selama bertahun-tahun kemudian hingga Ichcha dan Tapasya dewasa. Terutama bisikan-bisikan jahat dari sang Nenek - Sumitra (Pratima Kanzi) telah membuat Ichcha dan Ibunya  memilih kabur dari rumah Tuan Takur.


Pemain Uttaran
Ibu Ichcha, Damini (Vaishali Thakkar)
Ah sayang, cerita Uttaran yang katanya tembus sampai 1549 episode tersebut, tidak berhenti sampai di situ. Dan aku pun mulai malas menontonnya karena kasihan dengan karakter Ichcha yang terus menderita dan sepertinya sampai mati pun ia akan terus menderita. Ditambah juga benci luar biasa dengan sang Nenek yang terus melakukan propaganda di rumah Tuan Takur.

Haha..
Mungkin ada yang merasa lucu ya, ada cowok yang nonton film Uttaran di ANTV ini? Yah, apa boleh buat. Setiap sore, selama tiga jam istri duluan ngabsen di depan tipi buat nonton opera sabun asal tanah Hindustan tersebut. Saya yang lewat buat ke kamar mandi, ambil minum di kulkas yang tak jauh dari ruang nonton tipi, terpaksa mampir sebentar untuk melihat adegan atau memuaskan penasaran karena hanya mendengar dialog mereka dari bilik kerja saya.

Dan akhirnya, tanpa perlu menonton setiap episode, mulai terbayang bagaimana alur cerita dari film Uttaran ini. Haduh..


Pemain Uttaran
Ayah Tapasya, Jogi Takur (Ayub Khan)
Istri sendiri punya alasan mengapa ia akhirnya demen menonton sinetron India seperti Jodah, Veera, Balveer dan lainnya. Cuma satu alasannya sih. Karena ia tidak tahu asal-usul kehidupan sang pemain dalam sinetron-sinetron India tersebut. Jadi ia tidak punya beban mental, untuk menahan hati melihat pemain yang sejatinya urakan memainkan watak religius, sebagaimana sinetron mainstream khas tanah air.

Secara pribadi, saya melihat alur cerita Uttaran - yang berarti Barang Bekas/ secondhand tak beda jauh dengan skenario sinetron tanah air. Penuh intrik, konflik tak berkesudahan, tokoh utama yang terus diundung kemalangan, membenturkan sang kaya dan sang miskin dlsb. Tetapi, satu hal unik yang saya tangkap - bisa saja saya keliru, adalah urusan pamer kekayaan.

Meskipun setting sinetron ada di rumah mewah, tapi tak terlalu menonjol atau tepatnya tidak terbaca, bahwa ada unsur pamer kekayaan di rumah tersebut. Berjalan alami-alami saja. Beda dengan sinetron Indonesia, pamer itu terlalu kelihatan. Entah salahnya di mana. Apakah bagian properti saja yang tidak bisa melebur dengan kondisi sekitar lingkungan penggarapan film atau apalah.

Pemain Uttaran
Eduun.. Sampe keluar peringatan dari pemerintah lokal.
Atau memang mental kita yang inlander. Tak berani tampil dengan identitas sendiri. Senantiasa, menggunakan aksesoris imitasi keduniawian dan cenderung kebarat-baratan. Tengok saja, India dalam film dengan setting paling modern sekalipun tidak meninggalkan baju kebesaran mereka semacam baju sari, dhoti, lungi, kurta dan lainnya.

Jepang, Korea menyusul pula Malaysia berhasil menegakkan identitas nasional mereka dalam media konteks perfilman. Tak sungkan mereka mengangkat identitas mereka sendiri. Mereka bisa bertahan dan memadu-padankan hal tradisional dengan simbol modern. Tetap elegan dan tidak kuno.

Berbeda dengan Indonesia. Apa kabar kebaya? Bisa tidak setenar dan kimono atau baju sari? Kebaya hanya terlihat di jaman-jamannya film Benyamin S atau paling dekat di filmnya Dono-Kasino-Indro. Bisa tidak batik bertansformasi menjadi konstum pemain yang indah dan etnik.


Pemain Uttaran
Hahaha.. muncul juga meme-nya
Ah sudahlah..
Dari Uttaran kita bisa belajar banyak hal. Tanpa perlu berdebat tentang keimanan, hanya gara-gara sang nenek atau beberapa tokoh mengucapkan "Demi Dewa!". Walaupun memang dari segi akidah, yang seperti ini berbahaya JIKA diakui sepenuh hati. Perlu dewasa kita untuk melihat perbedaan ini. Perlu tenggang rasa kita dalam mengambil jarak di sini.
 
Bukankah, saudara-saudara kita yang non-muslim pun harus terpapar selama sebulan penuh dengan acara-acara bernuansa Islami selama bulan Ramadhan? Seberapa sabar mereka? Atau seberapa sering mereka protes?

Jika masih saja tidak setuju, dengan adanya sinetron-sinetron berbau syirik dan ada 'dewa'-nya ya berarti harus mau membangun dan membuat stasiun televisi sendiri yang memproduksi tontotan yang dapat menjadi tuntunan. Jangan cuma jadi haters. Jika memang tidak sesuai, kontrol ada di tangan anda. Pindahkan channel-nya atau matikan saja tipinya.

Gitu..

1 comment:

  1. hahahha,,,sampai segitunya pak lurahnya ya,,,,,,


    http://www.jurnalwisata.id/2016/03/tempat-wisata-di-semarang.html

    ReplyDelete