Saturday, July 2, 2016

Jika Ramadhan Tidak Lagi Sakral


Pernahkah terbersit dalam pikiran kita, jika suatu saat nanti, bulan Ramadhan tidak lagi sakral. Tidak lagi istimewa. Orang yang berpuasa, tidak lebih banyak daripada orang yang tidak puasa. Orang sekuler menjadi lebih banyak, syariat sudah tidak menarik lagi?

Saya tak sanggup membayangkannya. Walaupun sebenarnya, saat ini pemandangan tak sakral itu mulai tampak di mana-mana. Karena terus terang, harus diakui, aroma Ramadhan tahun-tahun belakangan ini, masih bisa terasa karena ada spanduk besar di pinggir jalan yang berisi ucapan selamat berpuasa dari tokoh si anu atau pejabat publik, banner raksasa bertuliskan tawaran diskon gede-gedean mengatasnamakan Ramadhan Sale dari pusat perbelanjaan atau jangan lupa iklan sirup di televisi saja yang 'semarak' menyambut dan mengisi hari-hari Ramadhan kita.

Selebihnya, pemandangan tak sakral mulai biasa menyapa, terutama saat berada di luar rumah. Orang merokok di pinggir jalan, bebas minum dan makan tanpa ada rasa malu sama sekali. Dan sejumlah pemandangan tak sakral lainnya.

Terkesan, Ramadhan itu tak penting. Lebih penting itu adalah menyambut kedatangan Idul Fitri. Hari raya yang identik dengan foya-foya dan kesenangan.

Sekali lagi, perasaan iman yang alakadar di dalam hati ini, memberontak tak rela dengan pemandangan tersebut. Bagaimana mungkin seorang muslim bisa dengan tenang makan, minum dan merokok di ruang terbuka?

Ah, saya langsung teringat dengan perkataan Cak Nun, Orang Beribadah (puasa) kok minta dihormati. Walaupun tidak menyetujui 100% dengan pernyataan tersebut, namun paling tidak bisa mengerem untuk tidak langsung memvonis dan marah-marah terhadap sesuatu yang tidak kita setujui, apalagi yang terkait dengan keimanan. Mungkin ada alasan syar'i mengapa mereka tidak puasa. Mungkin saja.

Tapi seandainya benar, tahun-tahun ke depan, Ramadhan tidak lagi sakral. Alangkah sedihnya. Yang tidak puasa makin banyak, sebanding lurus dengan makin banyak pula yang show of force dengan makan-minum-merokok di tempat terbuka.

Bagaimana jika kemudian, muncul Perda yang sebaliknya dari sekarang? Misal Perda dilarang menunjukkan kalau sedang berpuasa. Perda dilarang membangunkan orang sahur, cukup dengan menggunakan weker. Perda dilarang tadarusan sehabis Subuh. Perda dilarang takbir menggunakan speaker masjid dan sebagainya.

Mungkin nggak? Mungkin saja. Jika masyarakat sekuler makin banyak dan masyarakat muslim semakin alergi dengan ajaran agamanya sendiri. Apalagi jika pemerintahnya juga sekuler karena dipilih oleh masyarakat sekuler yang telah menjadi mayoritas.

Alasannya, bisa saja demi menghormati orang yang tidak berpuasa (yang semakin banyak dan mayoritas) dan tidak mengganggu ketenangan mereka. Toh, syariat sudah dikerdilkan dan Ramadhan bukan lagi bulan yang sakral.

Duh mengerikan.. (*)

0 comments:

Post a Comment